SURABAYA - Berbicara keragaman suku dan budaya di Surabaya sangat beragam. Termasuk oleh orang-orang Tionghoa yang memang sangat menonjol dank has sekali di Surabaya.
Orang Tionghoa di Surabaya kebanyakan merupakan pedagang dan memiliki bisnis. Itu sudah terjadi turun temurun. Orang banyak mengidentikkan orang Tionghoa dengan pemilik toko, karena memang jiwa dagang mereka sangat kuat.
Founder Surabaya Heritage Society, Freddy H Istanto mengatakan, Kota Surabaya dikenal sebagai kota perdagangan, ternyata kekuatan Surabaya pada perdagangan dan penggerak perdagangan selama ini didominasi oleh orang-orang Tionghoa.
Menurutnya, orang-orang Tionghoa memang kuatnya di perdagangan sehingga mereka lemah di desain, art atau seni. "Orang-orang Tionghoa yang datang ke Indonesia memang tujuannya berdagang dan di Surabaya kuat sekali," kata Freddy.
Menurut Freddy, orang Tionghoa memang kuat sekali jiwa berdagangnya dan memunculkan pengusaha-pengusaha besar seperti keluarga Han, The, dan Tjoa. Mereka adalah pebisnis besar pada zaman itu. Sehingga bisnisnya sampai ke Jember, Pasuruan, Probolinggo, terutama perusahaan gula.
Memang orang-orang Tionghoa itu pedagang. Apalagi di waktu orde baru untuk pekerjaan seperti pegawai negeri sipil (PNS) mereka dilarang, akhirnya berdagang. "Nah kalau sekarang dari anak mudanya sudah masuk ke segala sektor mulai dari seni dan bahkan ke pemerintahan sudah ada semuanya," terangnya.
Sementara itu, Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika menjelaskan, keberadaan komunitas Tionghoa sendiri sudah cukup lama, migrasi orang Tionghoa dari daratan Tiongkok ke nusantara memasuki puncaknya di abad 19 dan abad 20.
“Orang Tionghoa di Surabaya ada dua kelompok masyarakat, yaitu Tionghoa totok dan Tionghoa peranakan,” jelasnya. (jar/nur)
Editor : Jay Wijayanto