SURABAYA - Surabaya menjadi kota prioritas kedua setelah Batavia (Jakarta) dalam hal pengembangan wilayah pada zaman kolonial Belanda. Surabaya yang menjadi kota pelabuhan kedua terbesar saat itu dibangun sedemikian rupa oleh Belanda, berbagai fasilitas dan prasarana pelabuhan dibangun.
Begitu juga dengan berbagai teknologi baru saat itu dibangun di Surabaya, salah satunya keberadaan crane putar untuk mengangkat barang dari kapal. Salah satu yang masih dapat disaksikan hingga kini adalah crane putar Kalimas.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengungkapkan, crane putar ini merupakan milik perusahaan Belanda NV De Bromo, NV De Industrie, dan NV De Vulkaan.
Kala itu, crane tersebut merupakan teknologi baru dan dibangun di Surabaya untuk membantu operasional pelabuhan. "Surabaya menjadi prioritas teknologi baru pada masa itu karena menjadi pelabuhan maju saat itu," ungkapnya.
Crane ini membantu untuk mengangkat muatan kapal yang berat dan besar ke daratan. Alat ini masih bisa dijumpai di sekitar Jalan Kalimas Barat. Crane ini membantu memindahkan muatan dari kapal kemudian dimuat kembali ke kereta api (KA) untuk dikirim ke alamat tujuan.
Perusahaan Belanda ini akhirnya dinasionalisasi menjadi PT Boma Bisma Indra. "Saat ini crane dan gedung perusahaan menjadi cagar budaya," katanya. (gun/nur)
Editor : Jay Wijayanto