SURABAYA - Permukiman Eropa elit di kawasan Darmo Boulevard dan Coen Boulevard tentu tidak lengkap kalau tidak ada fasilitas pendidikan. Sebab pendidikan merupakan bagian terpenting untuk pembentukan karakter serta intelektual manusia.
Di kawasan itu berdiri beberapa sekolah, bahkan tetap aktif hingga kini dan tak berubah fungsi. Saat itu, para bruder Congregatio Sanctii Aloysii (CSA) memindahkan Broederschool dari pusat kota Surabaya lama ke Coen Boulevard Nomor 7 (sekarang Polisi Istimewa) pada tahun 1923.
Pegiat Sejarah Surabaya, Nur Setiawan mengatakan, sekolah ini mengacu pada pendidikan Belanda dan dikhususkan bagi anak laki-laki bangsa Belanda dan Eropa lainnya. Karya pendidikan ini berawal dengan Lager School (SD) St. Louis.
Kemudian berubah menjadi Middelbare Uitgebreid Voor Lager Onderwijs atau MULO (SMP). "Pada tahun 1950 berubah lagi menjadi Herstel Hogere Burger School atau HBS (SMA). Pimpinan sekolah saat itu adalah Bruder Engelbertus. Broederschool di Krembangan mengalami perkembangan yang pesat hingga harus membuka sekolahan serupa di kawasan selatan," kata Wawan, sapaan akrabnya.
Pembangunan kawasan tersebut juga meliputi berbagai aspek, salah satunya fasilitas pendidikan. Darmo Boulevard memang dipersiapkan untuk berbagai cakupan agar para warga yang ada di kawasan ini dapat mencukupi kebutuhan dasar mereka, di antaranya belajar dan mengajar.
"Tiap tahun sekolahan ini membuka pendaftaran bagi murid-murid baru dan kebanyakan memang warga sekitar. Namun di luar Darmo Boulevard juga bisa mengenyam pendidikan di Broederschool yang terletak di Coen Boulevard tersebut," jelasnya. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto