SURABAYA - Dulu kawasan perumahan Eropa Darmo Boulevard, termasuk di dalamnya Coen Boulevard (sekarang Jalan Dr Soetomo) merupakan pengembangan terakhir dari Kota Surabaya di kawasan Selatan.
Pada era penjajahan, khususnya sejak Belanda menguasai Indonesia, pembangunan kota dimulai dari kawasan utara, yang sekarang merupakan kawasan Jalan Rajawali dan sekitarnya.
Dosen Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga Adrian Perkasa mengatakan, seiring berkembangnya transportasi umum, pembangunan mengarah ke selatan, ke arah Tunjungan. Lalu di awal abad 20, perkembangan terakhir di kawasan Darmo Boulevard. Kawasan itu dikonsep sesuai dengan ilmu tata kota yang lagi berlaku di seluruh dunia, khususnya di Eropa.
"Nah, mangkanya dikenal dengan boulevard yang istilahnya dua jalan dan dilewati trem," kata laki-laki yang juga Peneliti Doktoral Universitas Leiden tersebut.
Menurut Adrian, yang membuat master plan-nya permukiman elit Eropa di kawasan itu adalah insinyur Henry Maclaine Pont. Jadi kalau saat ini Darmo Boulevard seperti di kawasan Surabaya Barat, yaitu di Citraland dan Pakuwon Barat. Nah kalo Darmo Boulevard ini ya Coen Boulevard (Jalan Dr Soetomo) termasuk Reiniersz Boulevard (Jalan Diponegoro).
"Jadi ibarat 100 tahun yang lalu di kawasan Darmo Boulevard, Jalan Dr Soetomo dan Jalan Diponegoro itu seperti sekarang di Surabaya Barat yaitu Citraland dan Pakuwon Barat.
Sedangkan yang merancang master plan-nya adalah Insinyur Henry Maclaine Pont," terangnya.
Tak anyak dengan penerapan konsep tata kota ala Eropa di kawasan perumahan elit Eropa kala itu, kawasan tersebut memang tampak berbeda dengan kawasan lain. Selain rumah-rumah loji nan mewah, lingkungan di sana juga tampak ekslusif dan asri. (bersambung/nur)