Pegiat sejarah Nur Setiawan mengatakan, UMKM di dalam kota Surabaya sudah ada sejak dahulu. Namun di awal abad 20 keberadaannya menggeliat. Mereka memasarkan produknya ke pasar bahkan barang yang dipasarkan tak sedikit yang diekspor ke negara Eropa.
"Keberadaannya (UMKM) memang sudah ada di tahun 1800 karena seiring datangnya warga Eropa dan mereka juga kulakan (ekspor) untuk dibawa ke negeranya seperti Belanda, Inggris, maupun Italia," ujar Nur.
UMKM dahulu mulai dari makanan, kerajinan, barang rumah tangga hingga peralatan pertanian dan untuk nelayan. Ada yang dijajakan di pasar seperti Pasar Pabean, Genteng, Keputran maupun Pasar Turi. "Mereka yang beli sesama orang pribumi dan non pribumi," tuturnya.
Setiap wilayah di Surabaya juga mempunyai produk UMKM masing-masing. Nur menjelaskan, seperti di kawasan Karang Tembok juga ada UMKM pengrajin bambu yang membuat kere, besek hingga topi. Sedangkan di kawasan Gresik ada UMKM yang khusus membuat alat-alat nelayan seperti jaring ikan, kemudian di Dinoyo ada UMKM yang khusus tenun kain, di kawasan Pengampon ada juga UMKM yang khusus gerabah.
"Jadi dulu UMKM tidak tersentralisasi, namun menyebar dan mempunyai produk masing-masing untuk dipasarkan," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Jay Wijayanto