Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan menjelaskan, dalam berbagai kegiatan budaya dan ritual keagamaan tumpeng selalu terlibat di dalamnya.
"Tumpeng bagi masyarakat tradisional Surabaya merupakan bentuk doa kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus perwujudan syukur kepada-Nya," ujarnya kepada Radar Surabaya.
Ia menambahkan, di Surabaya sebagai kawasan pesisir dan semi agraris selalu memunculkan tumpeng bukan hanya sebagai tradisi tapi simbol kebersamaan antar sesama.
"Sebagai contoh tumpeng dihadirkan dalam acara sedekah bumi, larung sesaji, selametan pembangunan sebuah gedung dan lain sebagainya," paparnya.
Penggagagas komunitas Surabaya Historical ini menyatakan, di era kolonial, tumpeng hadir dalam pembangunan viaduk Gubeng. Orang-orang Belanda yang ada di Surabaya juga meyakini dalam tradisi tumpengan akan terselip keselamatan dan kelancaran dalam sebuah proses itu pembangunan dan lainnya.
"Tumpeng klasik berisikan nasi putih yang disusun lancip, kulup sayuran, parutan kelapa bumbu, ayam bakar beserta pendampingnya seperti ikan, rempeyek dan lainnya," tuturnya.
Namun, lanjut Nur, terkadang isi tumpeng bisa berbeda sesuai adat dan tradisi sebuah wilayah. "Kalau tumpeng nasi kuning itu tergolong baru, kreasi kuliner modern," tukasnya. (rus/nur) Editor : Administrator