Menurut laki-laki yang akrab disapa Wawan ini, yang dimaksud tambak itu bukan tempat untuk beternak ikan, tapi waduk alam yang ditumbuhi tumbuhan air seperti kangkung, genjer, eceng, tunjung (teratai) dan lain-lain.
Selain ditumbuhi oleh tumbuhan air, menurut cerita tutur warga, konon dahulu di tempat ini di sekelilingnya juga ditumbuhi pepohonan nagasari. Dalam jenis bahasa latinnya disebut mesua ferrea. Pohon nagasari sendiri bagi masyarakat dianggap keramat, karena mempunyai banyak khasiat.
"Karena terdapat tambak-tambak alami dan pepohonan nagasari, maka masyarakat tempo dulu menjuluki kawasan ini dengan sebutan Tambaksari, sesuai toponimi dan keadaan alamnya," jelasnya.
Kemudian tambak-tambak tersebut lenyap karena kawasan ini mulai dihuni oleh masyarakat dan menjadi pemukiman secara turun temurun. Dahulu di Tambaksari juga terdapat lapangan.
Oleh masyarakat tempo dulu dijadikan semacam pasar kaget atau alun-alun, tapi setingkat kecamatan. Nah, di bulan September tahun 1945 lapangan tersebut digunakan oleh pemuda pemudi dari segenap penjuru Surabaya yang jumlahnya ribuan untuk rapat.
Selain lapangan bersejarah, dahulu di Tambaksari juga terdapat makam kuno orang-orang Tionghoa atau Bong. "Seiring berkembangnya zaman Bong ini telah tiada, di bekas makam tersebut hanya meninggalkan sebuah tetenger, yaitu kampung Tambaksari Bong," tutupnya. (jar/nur) Editor : Administrator