Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Radjamin Nasution, Tokoh Surabaya Asli Batak yang 2x Diangkat jadi Wali Kota

Administrator • Jumat, 12 Mei 2023 | 22:49 WIB
DIDOMINASI WARGA ASAL MADURA: Suasana di Jalan Bulak Banteng. (FAJAR/RADAR SURABAYA)
DIDOMINASI WARGA ASAL MADURA: Suasana di Jalan Bulak Banteng. (FAJAR/RADAR SURABAYA)
SURABAYA - Radjamin Nasution merupakan Wali Kota Surabaya pertama yang berasal dari Kampung Barbaran Julu, Tapanuli, Sumatera Utara. Sosok Radjamin yang garang sering kali membuat Belanda ketar-ketir.

Ia berkali-kali menegur dan memprotes wali kota sebelumnya yang berkebangsaan Belanda bernama Mr. W.A.H. Fuchter karena pembangunan yang dilaksanakan sangat jauh dari keinginan maupun kebutuhan rakyat.

Menurut pegiat sejarah, Nur Setiawan, Jepang ketika pertama kali menduduki Surabaya sangat kepincut dengan tipikal Radjamin yang tegas tanpa tedeng aling-aling, seperti karakter masyarakat asli Surabaya. Akhirnya, pemerintah kolonial negeri Matahari Terbit ini mengangkatnya sebagai Wali Kota Surabaya menggantikan Mr. W.A.H. Fuchter pada Februari 1942.

Namun, karir Radjamin hanya sebentar sebagai wali kota di Kota Pahlawan. Karena pada September 1942, kedudukannya digantikan oleh wali kota asal Jepang sendiri, Takashi Ichiro. "Karena kerap bersinggungan juga dengan kebijakan pemerintahan Jepang," ucap Nur.

Namun Jepang juga tak lama menduduki Tanah Air termasuk Surabaya, yakni hanya sekitar tiga tahun. Radjamin yang berasal dari Partai Indonesia Raya (Parindra) kemudian diangkat menjadi Wali Kota Surabaya kembali.

Nur menjelaskan, kabarnya pengangkatan Radjamin menjadi Wali Kota Surabaya untuk kali kedua ini langsung dari Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan RI.

Menurutnya, pengangkatan Radjamin karena Soekarno mempunyai penilaian tersendiri terhadap tokoh asli Batak ini. "Sosok Radjamin di Surabaya merupakan pekerja yang punya pendidikan tinggi serta memiliki jiwa nasionalisme tinggi," ujarnya.

Radjamin memang dikenal anti kolonialisme, ia kerap turun ke kampung-kampung melihat kondisi dan menampung aspirasi masyarakat. Bahkan ketika terjadi pertempuran hebat pada 10 November 1945 yang mengubah peta perjuangan nasional, banyak pejuang gugur. "Atas ide Radjamin, pemakaman pejuang dilakukan di Lapangan Canna yang sekarang menjadi TMP Kusuma Bangsa," jelasnya.

Sebagai Wali Kota, Radjamin juga ringan tangan. Ia juga turun membantu pengungsi. Bahkan menurut Nur, Radjamin juga seorang dokter yang mengambil posisi sebagai Kepala Dinas Kesehatan Surabaya. "Ketika itu Radjamin juga mengakomodir pertolongan terhadap pejuang yang terluka saat peperangan,” paparnya. (rmt/nur) Editor : Administrator
#Radjamin Nasution #Asli Batak #Tokoh Surabaya #Dua Kali jadi Wali Kota Surabaya