Koordinator Begandring Soerabaia Nanang Purwono mengatakan, G.H Von Faber dalam bukunya Oud Soerabaia (1931) memaparkan wilayah kota lama Surabaya adalah di dalam tembok kota. Yakni di sekitar Jembatan Merah atau wilayah Krembangan Selatan.
Di era pemerintahan Hindia-Belanda, kota Surabaya disebut kota Belanda. "Tentu sangat beralasan karena segala aktivitas dan dinamika masyarakat kulit putih dan warga pribumi bekerja untuk kepentingan kompeni Belanda," jelasnya.
Ia menambahkan, untuk wilayah yang berada di luar tembok disebut Kota Atas. Kota Atas tumbuh dan berkembang setelah kota bawah sudah tidak mampu menampung perkembangan dan kemajuan kota.
"Memasuki awal abad ke-20, pertumbuhan wilayah kota Surabaya meluas ke selatan tembok kota. Di antaranya ke kawasan Simpang, Jimerto, Darmo dan Sawahan," ungkapnya.
Sementara pegiat sejarah Surabaya Nur Setiawan menuturkan, pada awal abad 20, permukiman elit orang Eropa mulai mengarah ke selatan. "Seperti di Jalan Arjuno, Jalan Darmo, Jalan Panglima Sudirman dan lainnya," terangnya. (rus/nur) Editor : Administrator