Pegiat Sejarah Surabaya, Navy Pattiruhu mengatakan, saat itu pekerjaan penjaga perlintasan kereta api diberikan kepada kalangan pribumi. "Penjaga perlintasan kereta api sudah ada mulai tahun 1878 dan pekerjanya semua dari kalangan pribumi, karena statusnya adalah pegawai rendahan," kata Navy.
Menurut anggota Begandring Soerabaia ini, sejak era kolonial, tidak semua perusahaan kereta mau mengeluarkan anggaran lebih untuk mempekerjakan profesi ini. Hanya perusahaan besar saja yang berani menyediakan fasilitas palang plus penjaga perlintasan dan ditempatkan di beberapa titik jalur kereta yang bersinggungan langsung dengan jalan raya yang punya lalu lintas padat.
Sementara itu, perusahaan trem yang jalurnya menyatu dengan jalan mayoritas tidak mempekerjakan mereka di persimpangan jalur trem dengan jalan raya. Begitu juga dengan komunikasi perlintasan dan stasiun, ketika kereta akan melintas digunakan lonceng genta yang ada di sisi pos.
"Saat kereta mau melintas pasti lonceng genta akan berbunyi beberapa kali, sehingga menandakan kereta akan lewat," imbuhnya.
Lebih lanjut Navy menuturkan, untuk pos perlintasan hanya sederhana terbuat dari kayu. Sedangkan untuk penjaga perlintasan zaman kolonial dengan cara menutup palang menggunakan sebuah alat kontrol mekanik. "Jadi dulu untuk palang perlintasan kereta dijalankan dengan dikayuh menggunakan tangan untuk menutup dan membuka palang tersebut," terangnya. (jar/nur) Editor : Administrator