Banyak orang menyebutnya sirop atau setrup. Lokasinya masih sama sejak berdiri, yaitu di Jalan Mliwis Surabaya. Pabrik sirop ini beroperasi sejak 1923 silam. Fasad bangunannya tertulis Pabrik Limoen JC Van Drongelen & Hellfach.
Nama yang terpampang itu merupakan pendiri pabrik ini. JC Van Drongelen seorang pengusaha Belanda. Sedangkan, Hellfach adalah nama pabrik botol. "Dulu berdampingan antara pabrik sirop dan botol itu sendiri," ujar Dewi Wulandari, salah satu pengelola pabrik.
Pabrik ini kerap berpindah tangan. Salah satunya, pemerintah Jepang sempat memiliki pabrik ini. Kendati bergonta-ganti pengelola dan kepemilikan, produksi sirop tetap bertahan sampai sekarang.
"Jepang sempat mengambil alih, kemudian dikelola Belanda lagi. Sampai kemerdekaan, pabrik ini baru dinasionalisasi dan masuk di perusahaan daerah Provinsi Jatim," jelasnya.
Pada 1962, diserahkan ke Perusahaan Industri Daerah Makanan dan Minuman yang merger menjadi PD Aneka Pangan tahun 1985. Hingga 2002, Siropen masuk PT Pabrik Es Wira Jatim yang merupakan holding company dari PT Panca Wira Usaha Jawa Timur.
Pabrik ini mempertahankan produksi sirop secara tradisional. Dewi mengatakan, seluruh produk Siropen menggunakan gula asli tanpa bahan pengawet. Ada tiga jenis sirop produksi Siropen, yakni varian telasih, premium, dan gourmet. "Memiliki rasa yang beragam tiap varian," tuturnya.
Saat ini, pabrik itu menjadi salah satu cagar budaya di Surabaya. Wali kota mengeluarkan Surat Keputusan (SK) cagar budaya itu pada 17 Maret 2015 bernomor 188.45/75/436.1.2/2015. Dewi mengatakan, bentuk bangunan pabrik itu masih terjaga. "Harapannya dapat menjadi salah satu objek wisata di Surabaya," imbuhnya. (hil/nur) Editor : Administrator