Yang tak banyak diketahui orang, Suikerstraat alias Jalan Gula ini tempo doeloe dikenal sebagai pusat penerbitan buku-buku cerita, roman, dan sastra Tionghoa. Kantor penerbitan Tjerita Roman itu di Suikerstraat Nomor 1-3 Surabaya.
Tjerita Roman ini terbit setiap bulan macam majalah bulanan. Tapi bukan seperti majalah Anita Cemerlang tahun 1980-an dan 1990-an yang berisi kumpulan cerpen. "Tjerita Roman menerbitkan buku roman (semacam novel pop) tanggal 20 saban bulan," kata Beni Making dari komunitas Jejak Petjinan.
Gaya bahasa yang dipakai Melayu Rendah atau Melayu Tionghoa. Pakai ejaan Van Ophuijsen tentu saja karena masih di zaman Hindia Belanda. "Kalimat-kalimatnya lincah dan santai seperti orang ngobrol di pasar. Makanya, biasa disebut bahasa Melayu Pasar," kata Beni.
Para sastrawan Melayu Tionghoa itu tak lupa memasukkan petuah-petuah dan wejangan dalam narasinya. Mirip sekali dengan gaya bercerita Asmaraman Kho Ping Hoo sang raja cerita silat.
Bedanya, menurut Beni, gaya bahasa Kho Ping Hoo tidak lagi kental dengan Melayu Tionghoa tapi sudah cenderung ke bahasa Indonesia modern.
"Apa jang kaoe bisa nanti ada laen orang jang lebih bisa kerna kaoe toch tjoema satoe manoesia...," begitu antara lain pesan Tjan Bong Sing, pengarang roman Boe Tek Eng Hiong, terbit November 1931 di Suikerstraat 1-3 Surabaya.
Gaya roman-roman Tionghoa ini sangat berbeda dengan roman-roman Balai Pustaka atau Pujangga Baru yang cenderung lebih serius dan menggunakan bahasa Melayu Tinggi atau bahasa Indonesia yang lebih modern. "Penggemar roman-roman Melayu Tionghoa ini tersebar di berbagai kota di Nusantara," kata Beni. (rek) Editor : Lambertus Hurek