Aset itu kemudian dibangun Museum Pendidikan. Wali Kota Risma sempat meresmikan museum itu sebelum diangkat sebagai menteri sosial.
Berdasar penelusuran Radar Surabaya, bangunan di Jalan Genteng Kali 10 itu tempo dulu merupakan sekolah Tionghoa. Yakni Chung Hua Kuo Min School.
Pemerhati Tionghoa dari Universitas Airlangga Shinta Rahayu menjelaskan, sekolah-sekolah Tionghoa di tanah air sebelum tahun 1945 berkiblat atau pro Kuo Min Tang (KMT). Nah, sekolah di Genteng Kali ini pun berorientasi ke KMT atau nasionalis Tiongkok.
"Setelah 1949, sekolah-sekolah terbelah. Yang dulu Kuomintang beralih ke komunis," kata Shinta yang juga penulis buku tentang pendidikan dan budaya Tionghoa di Surabaya.
Sekolah Tionghoa Chung Hua Kuo Min School di Gentengkali 10 ini ikut terimbas arus politik di Tiongkok dan Indonesia. Pemerintah Indonesia mulai menutup sekolah-sekolah yang dianggap pro KMT pada 1958. Sejak itulah riwayat Chung Hua Kuo Min School pun ikut tamat.
Nah, gedung sekolah itu kemudian digunakan oleh Perguruan Taman Siswa Surabaya. Karena itu, warga Surabaya umumnya mengenal bangunan lama di dekat Kali Mas itu sebagai Taman Siswa. Perguruan Taman Siswa kemudian membangun gedung sekolah sendiri di kawasan Lontar, Sambikerep.
Sejak itulah gedung eks sekolah Tionghoa itu mangkrak. Rupanya Pemkot Surabaya diam-diam terus berusaha agar aset penting di kawasan strategis itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Wali Kota Risma pun langsung punya ide untuk membangun museum pendidikan. "Saya memang ingin membuat Museum Pendidikan di tempat itu, kemudian juga Rumah Matematika dan Rumah Bahasa,” kata Risma. (rek) Editor : Lambertus Hurek