Gedung Internatio diapit Jalan Rajawali (Heerenstraat) dan Jalan Garuda (School straat), berhadapan langsung dengan Taman Sejarah (Willemsplein, Terminal Jembatan Merah, Taman Jayengrono). Tidak jauh dari Jembatan Merah (Roode Brug).
Chrisyandi Tri Kartika, pengamat Surabaya tempo doeloe, mengatakan Internatio didesain oleh biro arsitektur AIA (Algemeen Ingineurs en Architecten, FJL Ghijsels, Hein von Essen, F. Stilitz, 1916) yang membuka cabang pertamanya tahun 1932 di Surabaya setelah bangunan ini sudah jadi. Perencanaan desain mulai tahun 1927 sampai 1928.
"Setelah itu baru mulai dibangun tahun 1929-1931, dibuka atau diresmikan pada 1 Agustus 1931," kata Chrisyandi.
Bangunan ini mempunyai kisah menarik di tahun 1945. Biasa dikenal dengan pertempuran tiga hari, 28-30 Oktober 1945.
Dalam buku karya Yulianto disebutkan bahwa Internatio dirancang juga oleh Wolff Schoemaker. Jadi, ada semacam kerja sama dalam merancang gedung dua lantai perusahaan dagang ini. Satu lantai dianggap bagian atap.
Jarak antar kolom tiga meter dan panjang bangunan sekitar 70 meter membentang dari utara ke selatan.
Lantai dua terdiri dari ruang direksi, keuangan, ruang makan dan administrasi di bagian selatan. Sedangkan lantai satu ada garasi, toilet dan sebagainya.
"Terakhir gedung ini dipakai oleh PT Tjipta Niaga," kata Chrisyandi.
Gedung Internatio yang megah ini sempat mangkrak selama 30-an tahun. Pada 1995, PT Suryatama Tribrata mengganti nama Internatio menjadi Wisma Seruni. Sempat diiklankan di Jawa Pos untuk disewakan sebagai kantor. Namun tidak ada respons yang memuaskan.
Nah, pada awal Februari 2022 gedung Internatio akhirnya dibuka lagi sebagai markas salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) nasionalis. "Kawan-kawan adakan kegiatan LGP (Laskar Ginandjar Puan) di sini," kata Sugeng Rahardjo, aktivis LGP Jawa Timur, kepada Radar Surabaya.
Menurut dia, tidak mudah membersihkan gedung yang sangat luas itu. Apalagi sudah bertahun-tahun tidak ditempati. Karena itu, lantai paling atas masih kosong. "Ke depan untuk ruang pertemuan, rapat, bisa untuk acara apa saja," kata Sugeng.
Aktivis senior itu berharap bangunan cagar budaya yang terkait erat dengan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus berjuang dalam mengisi kemerdekaan. Pesan Bung Karno, "Jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah!" (rek) Editor : Lambertus Hurek