Kalau di Jakarta, nama jajanan ini pancong, di Blitar disebut gandos, sementara di Bojonegoro disebut tratak jaran. Namun, rasa dan bentuk kue ini sama.
Meskipun berbeda nama namun tetap rasa jajanan ini sama antara satu daerah dengan daerah lain. Tidak diketahui pasti dari mana asal jajanan satu ini. "Entah dari mana asalnya, namun ada di setiap wilayah di Indonesia, termasuk di Surabaya," kata Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan.
Ya, tidak diketahui pasti asal kudapan ini. Kudapan satu ini sudah ada sejak lama. Pedagangnya biasa berjualan berputar dari satu kempung ke kampung lainnya sambil dipikul. Tentunya dengan teriakan yang khas ‘Ngiiin...Rangin’. Cara buatnya pun mudah, cetakan yang digunakan sama dengan yang digunakan untuk pukis. Adonan dituangkan kemudian diberi serutan kelapa.
Setelah matang, kudapan ini ditaruh kertas dan ditaburi gula. Dulu, penjual rangin biasa keliling pada pagi hari. Namun, sekarang malam pun masih sering ditemui. Rasa gurih dan manis serta kelapa parut menjadi perpaduan rasa yang menarik kue satu ini.
“Di Surabaya mulai jarang ditemui pedagang rangin yang keliling, dulu banyak,” imbuhnya. (gun/nur) Editor : Lambertus Hurek