Sekitar tahun 1970-an sebelum ada pasar ini lokasinya masih berupa rawa dan makam. Kini pasar tersebut sudah dibanun bangunan dan luasnya mencapai 5.000 meter persegi.
Kepala Pasar Tanaman dan Burung Bratang Binangun, Ibnu menjelaskan, sekitar tahun 1970-an dulunya masih rawa-rawa dan bahkan ada makam. Namun sekarang untuk makam sudah jadi Jalan Raya Bratang Binangun. Sehingga saat itu orang-orang yang mau berjualan tanaman bunga dan burung membersihkan tempatnya sendiri-sendiri untuk dijadikan stan.
"Dulu orang yang ingin menempati stan masih membersihkan rawa-rawa untuk berjualan tanaman bunga dan burung," katanya.
Untuk saat ini, kebanyakan dari pedagang sudah masuk generasi ketiga dan para penerus tersebut tidak tidak tahu sejarah tentang pasar ini. "Termasuk saya sudah tidak tahu tentang sejarahnya, namun dari cerita-cerita orang terdahulu begitu," ucap Ibnu.
Sementara itu, salah satu pedagang tanaman bunga, Tri Utomo mengatakan, dirinya mulai berjualan di pasar tersebut sekitar tahun 1986. Awalnya berpindah-pindah dari pasar Kayoon dan pindah ke pasar Bratang. "Dulu saya memang pindah-pindah mulai dari pasar Kayoon, Pucang dan akhirnya di sini, Bratang. Saat itu masih berupa rawa-rawa," jelasnya.
Ada pembagian stan di pasar Bratang, untuk stan penjual tanaman jumlahnya mencapai 200 yang dimiliki/disewa oleh 80 orang. Karena setiap penjual ada yang menempati dua hingga lima stan. Pasar inpres (sembako) ada 100 orang, namun sekarang sudah berkurang untuk stan di lantai bawah, sedangkan untuk stan di lantai atas banyak yang kosong.
Pasar burung pedangnya kurang lebih 100 orang dan pasar ikan kurang lebih 10 orang dengan 20-an stan. (jar/nur) Editor : Lambertus Hurek