Selain toko-toko dan kantor besar, di Jalan Kembang Jepun terdapat Pasar Terang. "Sejak zaman Hindia Belanda sudah ada Pasar Terang di Kembang Jepun," kata Yahya Zakaria, anggota komunitas Jejak Petjinan Surabaya.
Ia lalu mengutip berita kecil yang dimuat di koran lawas Swara Publiek edisi tahun 1929. Di rubrik Warta Politie tertulis:
"Lam Sang dari Sambongan Gang 6 No 6 kailangan spedanja merk Raleigh Populair harga f 50 di Pasar Terang Kembang Djepoen. Sebetoelnja ini speda kepoenjaannja restaurant Kit Wan Kie."
Seperti pasar-pasar pada umumnya, Pasar Terang di Kembang Jepun ini mengalami pasang surut. Apalagi sejak dibangunnya Pasar Atoom dan Pasar Turi. "Komoditas yang dijual di Pasar Terang tentu beda dengan di Pasar Pabean yang lokasinya berdekatan," kata Yahya.
Hingga 1990-an Pasar Terang di Kembang Jepun masih eksis. Namun memasuki tahun 2000-an pasar di persimpangan Kembang Jepun dan Kalimati Kulon itu akhirnya kolaps.
"Dulu ada sekitar 30 stan di Pasar Terang. Lumayan ramai," kata HM Adhon, pria asal Bangkalan yang berjualan sate di depan Pasar Terang sejak tahun 1980-an.
Adhon menduga surutnya pasar tua tersebut lantaran terjadi sengketa kepemilikan. Akhirnya, satu per satu pedagang terpaksa pindah ke tempat lain. Bangunan pasar itu pun mangkrak dan hancur. Saat ini hanya tinggal fasadnya saja. Namun tulisan Pasar Terang masih ada di sisi Kembang Jepun dan Kalimati.
"Sudah lama dipasang tulisan 'dijual' tapi sampai sekarang kelihatannya belum laku," kata Adhon. (rek) Editor : Lambertus Hurek