Salah satu generasi kedua penghuni Gedung Setan Harijadi Djianto mengatakan, halaman depan Gedung Setan dipakai sebagai pasar sekitar tahun 1975-an. "Berawal dari ada warga yang buka lapak nempel di depan sini. Lama-lama ramai jadi pasar," ujarnya kepada Radar Surabaya.
Pria 61 tahun ini menjelaskan, dahulu sebelum menjadi pasar depan Gedung Setan masih berupa halaman luas langsung menghadap ke sungai kecil. "Sungai ini dahulu lokasinya agak ke timur atau di jalan," terangnya.
Namun, seiring pembangunan perluasan Jalan Diponegoro, sungai digeser ke barat. Pasar di sekitar Gedung Setan yang ada lebih dahulu adalah pasar Kupang dan Pasar Kembang.
"Di sini dimanfaatkan sebagai pasar krempyeng. Sebab, warga tidak usah menyeberang jalan ke pasar Kupang atau Pasar Kembang," sebutnya.
Ia mengungkapkan, para pedagang akan membuka lapak sekitar pukul 03.00 dini hari. Kemudian pasar selesai pukul 11.00. Setelah selesai, pedagang akan membongkar lapak dan petugas kebersihan menyapu bersih sampah-sampah.
"Selain pasar di depan kanan kiri pintu utama gedung juga ada yang dibuat toko kelontong usaha warga," bebernya.
Pria yang akrab disapa Bimbie ini menyatakan, halaman gedung setan yang berbatasan langsung dengan sungai jadi sudah tidak terlalu luas setelah beralih fungsi. "Halaman dan jalan dipaving ini sejak zamannya Bu Risma (wali kota) dan dibuatkan pagar besi di pinggir sungainya," tukasnya. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek