Dua bangunan beratap memanjang tersebut masih ada dan terlihat masih berdiri kokoh. Namun sudah tidak difungsikan. Di sekeliling lapangan halaman bekas depo trem dan stasiun trem listrik Sawahan dikelilingi pagar besi dan tembok. Pada bagian depan terdapat plakat bertuliskan tanah milik PT KAI.
Sementara di sekitar lokasi, sudah padat rumah penduduk. Depo Trem Listrik Sawahan ini dahulu tempat semua armada trem memulai perjalanan tiap hari dimulai pukul 05.00 dan kembali pukul 22.00. Depo Trem ini memiliki 12 jalur untuk perawatan dan perbaikan.
"Dahulu dipakai Depo Trem Listrik Sawahan bangunan itu," ujar Pegiat Sejarah Surabaya Nanang Purwono.
Nanang melanjutkan, trem listrik ada sekitar tahun 1923. Awalnya, terlebih dahulu trem uap yang deponya berada di Wonokromo. "Untuk trem listrik rutenya banyak melewati tengah kota. Seperti Joyoboyo, Jalan Darmo, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Embong Malang, Jalan Praban, Bubutan, Pahlawan, hingga ke Jembatan Merah," sebutnya.
Sementara, untuk jalur dari timur ke barat mulai dari Stasiun Gubeng-Jembatan Gubeng-Simpang, perempatan Jalan Yos Sudarso-Jalan Embong Malang hingga ke Sawahan.
Menurut Nanang, trem listrik dahulu menjadi transportasi masal warga Kota Surabaya. Kemudian sekitar awal tahun 1970, trem mulai berkurang. "Akhir tahun 1970-an trem digantikan dengan transportasi bus," tukasnya. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek