Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Banyak Peninggalan Tiongkok di Majapahit Sejak Dinasti Mongol

Lambertus Hurek • Rabu, 25 Mei 2022 | 17:24 WIB
JEJAK SEJARAH: Situs Raos Pacinan di kawasan Gempol, dekat Sungai Porong. (IST)
JEJAK SEJARAH: Situs Raos Pacinan di kawasan Gempol, dekat Sungai Porong. (IST)
SURABAYA – Jauh sebelum penjajahan Belanda, para perantau asal negeri Tiongkok sudah berdatangan ke Nusantara. Jejak Tionghoa itu bisa dilacak pada masa Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Anthony Hock Tong, pemerhati Tionghoa menyebut warga Tanglang alias Tionghoa datang dari Hokkian, Tiongkok sejak abad ke-8, sejak Dinasti Tang sudah berdatangan ke Nusantara. Mereka berlayar ke selatan, yaitu ke Brunai Darussalam, Manado, Banjarmasin, dan Surabaya.

“Banyak peninggalan Tanglang di Majapahit sejak akhir Dinasti Mongol Tartar Yuan dan Song,” kata Anthony yang lahir di kawasan Pabean, Surabaya.

Sewaktu rombongan Laksamana Cheng Hoo mencapai di Trowulan, Mojosari, di tahun 1406, terdapat Gan Eng Cu, orang Hokkian asal Eng-chun di Cuanciu yang asalnya sudah merantau ke Luzon.

Dari catatan yang ada, Tionghoa di zaman dulu pernah mendarat di muara Bengawan Solo di Pacitan (Tuban), muara Kalimas di Gresik dan di muara Kali Porong, Sidoarjo. Situs Pacinan Raos masih terlihat di dekat Sungai Porong, wilayah Gempol.

“Tentara Mongol Kublai Khan mendaratnya di Pacitan itu, maunya menyerbu Kerajaan Singasari, tetapi Singasari sudah dimusnahkan oleh Brawijaya Mojopahit,” kata Anthony.

Dalam annal pelayaran Armada Ming disebutkan, sewaktu tiba di Majapahit, kapal berlabuh di Sungai Kanan sampai ke Sungai Kiri. Apa dan di mana itu Sungai Kanan dan Sungai Kiri tersebut?

“Sesudah meliwati muara Bengawan Solo di Pacitan, mereka meneruskan pelayaran sampai di Ujung Galuh (Chura-bagh) yang di dalam bahasa Tamil India adalah Taman Ksatria. Wilayah penampungan para ksatria Pandyas dari Madurai Tamil Nadu, yang membantu Gajah Mada membasmi pasukan Tartar di sana. Merekalah yang menjadikan orang Madura sekarang,” tulis Anthony yang juga dokter senior.

Armada Ming pimpinan Sampo Ong Keng Hong memandang ke jurusan selatan dari kapalnya, ada banyak muara kali di Surabaya. Maka, mereka menamakan Surabaya dalam Hokkian: Su-cui. “Artinya, ada banyak kali-kali, Mandarinnya Si-shui 泗水. Ada muara Sungai Kanan, yaitu Kalimas dan muara Sungai Kiri, yaitu Sungai Porong,” kata Anthony. (rek)
Editor : Lambertus Hurek
#Situs Raos Pacinan Sungai Porong #jejak awal Tionghoa di Majapahit #ekspedisi cheng hoo ke Nusantara #pelayaran tionghoa Kalimas dan Kali Porong #Tionghoa di Kerajaan Majapahit #ekspedisi tionghoa ke surabaya