Penggiat Sejarah Kota Surabaya Yayan Indrayana mengatakan, rumah yang ada di kawasan Ampel ini sudah ada sejak tahun 1800-an. Menurutnya, rumah tradisional di Surabaya masih menganut model rumah Jawa yang khas dengan limasan.
“Hanya saja ada beberapa yang mengadopsi gaya Belanda, ketika kolonial mulai masuk ke Indonesia,” ujarnya kepada Radar Surabaya, Selasa (24/5).
Yayan menambahkan, budaya luar sangat mempengaruhi dalam pemilihan material pembangunan rumah di Surabaya. “Kalau dulu banyak yang menggunakan ijuk sebagai atap, namun ketika Belanda masuk ke Surabaya, sudah mulai menggunakan genteng. Selain itu, kalau sebelumnya menggunakan gedek juga diganti dengan papan atau tembok,” katanya.
Menurutnya, arsitektur budaya luar ini terlihat jelas pada tampilan luar, namun untuk dalam ruangan masih menggunakan budaya Jawa yang memiliki hirarki ruang. “Selain itu rumah dengan atap yang tinggi ini juga dipengaruhi oleh budaya Eropa, sehingga ada atap masih bisa digunakan untuk kamar. Contohnya rumah HOS Tjokroaminoto,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika. Menurutnya, kebanyakan rumah tradisional di Surabaya ini berbentuk limasan. Rumah tradisional di Surabaya juga mendapatkan pengaruh asing.
Meskipun bebagai jenis rumah tradisional di Surabaya memiliki karakter utama struktural dan tradisi bersama, namun sejumlah fitur terlihat ada pengaruh eksternal yang berasal dari sejumlah tradisi arsitektural asing.
“Ini artinya pengaruh asing ini juga sangat kuat dalam arsitektur rumah di Surabaya,” katanya. (mus/nur) Editor : Lambertus Hurek