Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Hok Kian Kong Tik Soe Perkumpulan Tionghoa Tertua dan Terkaya di Surabaya

Lambertus Hurek • Sabtu, 21 Mei 2022 | 23:24 WIB
MANGKRAK: Gedung Hok Kian Kong Tik Soe di Jalan Bibis 25-27 Surabaya. Sempat dipakai untuk kampus Ubaya. (LAMBERTUS HUREK/RADAR SURABAYA)
MANGKRAK: Gedung Hok Kian Kong Tik Soe di Jalan Bibis 25-27 Surabaya. Sempat dipakai untuk kampus Ubaya. (LAMBERTUS HUREK/RADAR SURABAYA)
SURABAYA - Gedung tua di Jalan Bibis 25-27 Surabaya masih tegak berdiri. Sayang, bangunan itu sudah lama mangkrak. Sempat dipakai sebagai kampus Universitas Surabaya (Ubaya), gedung itu dibiarkan mangkrak. Tak terurus.

Shinta Devi, sinolog dari Universitas Airlangga, mengatakan dulu gedung itu merupakan markas Hok Kian Kong Tik Soe, perkumpulan warga peranakan Tionghoa yang leluhurnya berasal dari Hokkian, Tiongkok. Didirikan pada 1862. Para pendiri perkumpulan itu dikenal kaya raya.

"Sebagian dari mereka adalah opsir Tionghoa dan keluarganya," kata Shinta Rahayu. Tidak hanya menjadi pengurus, mereka juga menjadi penyandang dana atau donatur.

Tidak heran, koran Sin Po edisi 9 Januari 1937 menulis Hok Kian Kong Tik Soe merupakan "perkumpulan Tionghoa yang paling kaya di Surabaya".

Ketua Hok Kian Kong Tik Soe adalah Kapitein The Boen Hie dan wakilnya Mayor The Boen Keh. Tujuannya membersihkan adat istiadat Tionghoa dari adat istiadat pribumi. "Termasuk segala kepercayaan yang bersifat takhayul," kata Shinta.

Perkumpulan ini antara lain mengumpulkan uang untuk membantu warga Tionghoa miskin yang tidak mampu menyelenggarakan upacara pemakaman dan pernikahan sesuai dengan adat Tionghoa.

Tahun 1864, Hok Kian Kong Tik Soe mendirikan perkumpulan baru yang disebut Buat Perbuatan Baik di Kelenteng Hok An Kiong di Tepekong Straat atau Jalan Cokelat (sekarang).

Bukan itu saja. Hok Kian Kong Tik Soe juga mempromosikan gerakan menggunakan kembali baju peki atau koen di kalangan wanita Tionghoa. Sebaliknya, meninggalkan baju kurung, kebaya, dan kain sarung.

Menurut Shinta, gerakan Hok Kian Kong Tik Soe ini menimbulkan polemik di kalangan warga Tionghoa di Surabaya. Sebagian menyatakan tidak setuju. Kalangan yang tidak setuju itu lebih ingin agar perkumpulan menyelenggarakan sekolah untuknmengajarkan budaya, bahasa, adat istiadat Tionghoa serta bahasa Melayu. (rek) Editor : Lambertus Hurek
#Perkumpulan Tionghoa tertua Surabaya #Kelenteng Hok An Kiong Surabaya #Tujuan Hok Kian Kong Tik Soe #Hokkian Kong Tik Soe Jalan Bibis #Kampus Ubaya Jalan Bibis #Pecinan Jalan Bibis #Hok Kian Kong Tik Soe