Nuansa Tionghoa sangat kental dengan bangunan-bangunan kuno di sepanjang jalan tersebut. Arsitektur gapura ini sudah dipikirkan matang-matang oleh Freddy H Istanto selaku penggagas pemasangan gerbang Kya Kya.
Tidak hanya kental dengan nuansa Tionghoa, ia juga menyelipkan filosofi pada setiap ornamen gapura ini. Gapura dan patung naga tersebut dipesan dan didatangkan dari Batam.
Dosen Universitas Ciputra ini mengungkapkan, ada banyak filosofi dalam arsitektur gapura tersebut. Saat itu, ia memikirkan bagaimana gapura ini sebagai gerbang kembalinya kebudayaan Tionghoa di Surabaya.
"Ini setelah sempat ada larangan selama 32 tahun. Usai peresmian selama 30 hari berbagai kesenian pertunjukan budaya Tionghoa dipertontonkan di sana," kata laki-laki yang mengarsiteki gapura tersebut.
Dua patung naga ini bukan tanpa arti. Ia bahkan harus mencari literasi hingga ke Singapura terkait bentuk gapura Tionghoa. Dua naga ini memiliki panjang sembilan meter dari ujung ke ujung.
Angka sembilan merupakan angka keberuntungan dan angka terbesar bagi orang Tionghoa.
"Gapura khas Tiongkok ada dua naga berhadapan dan di tengahnya ada bola api. Kemudian di sisi kanan kiri bagian bawah ada singanya sebagai penjaga wilayah," ujarnya.
Warna merah dan hijau dipilih karena warna khas Tiongkok. Ia juga menambahkan genting dengan kanan kirinya ada bumbungan berbentuk ekor burung walet.
"Kami kekurangan literasi saat itu telah dua generasi tidak diperbolehkan mengembangkan budaya Tionghoa di Indonesia. Ini membuat kita saat itu kehilangan jejak kebudayaan Tionghoa," pungkasnya. (gun/nur) Editor : Lambertus Hurek