Pemerhati sejarah Nanang Purwono menuturkan, sebelum ada Kampung Gundih dahulu kawasan ini merupakan tempat penampungan hewan ternak. Hewan ternak yang berasal dari berbagai penjuru Pulau Jawa diangkut ke Surabaya menggunakan jasa kereta api dan berhenti di Stasiun Pasar Turi.
Sebelum dijual ke rumah potong atau dikirim ke peternak, terlebih dahulu hewan ternak ini transit di kandang penampungan untuk diperiksa.
Sebelum tahun 1958 orang-orang tua di Surabaya lebih mengenal kawasan Gundih dengan sebutan ‘Kandang Sapi’, sebab dahulu terdapat penampungan hewan ternak dan usaha susu sapi perah di daerah ini.
“Namun sekitar tahun 1960-an terjadi urbanisasi besar-besaran di Surabaya, banyak warga pendatang yang kemudian tinggal di area Stasiun Pasar Turi,” jelasnya.
Karena keberadaan para pendatang sangat membahayakan keselamatan dan membuat lintasan kereta menjadi terganggu, maka pada tahun 1970-an mereka dipindah oleh PJKA (kini PT. KAI) di lahan miliknya, di bekas tempat penyimpanan balok rel kereta api. Ternyata lahan yang ditempati oleh kaum urban lumayan luas hingga pada sekitar tahun 1980-an warga yang tak mempunyai tanah turut bermukim di sana.
“Kini daerah tersebut menjadi kampung baru yang dikenal dengan sebutan Kampung Gundih Lapangan,” imbuhnya.
Pemberian nama Kampung Gundih sendiri diambil dari nama daerah di pantura Jawa, yang berada di sekitar perlintasan kereta api jurusan Surabaya-Jakarta. “Makanya di sekitar Stasiun Pasar Turi banyak dijumpai nama jalan seperti Cepu, Lamongan, Semarang, Gundih, Babat dan lain sebagainya” terangnya.
Di tahun 1990-an Kampung Gundih sempat di cap sebagai kawasan minus, namun berkat usaha keras warga kini Gundih menjadi Kampung Hijau yang layak dijadikan sarana edukasi. (rmt/nur) Editor : Lambertus Hurek