Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bandar Kampoeng Baroe Jadi Akses Perdagangan di Kalimas

Lambertus Hurek • Jumat, 8 April 2022 | 03:04 WIB
BERLABUH:  Sebagai kota dengan transportasi sungai yang maju pada masa lampau, Surabaya menjelma menjadi kota pelabuhan dan berkembang hingga kini. (IST)
BERLABUH: Sebagai kota dengan transportasi sungai yang maju pada masa lampau, Surabaya menjelma menjadi kota pelabuhan dan berkembang hingga kini. (IST)
SURABAYA - Menyusuri sungai Kalimas mirip dengan menyusuri peradaban kota Surabaya, mulai dari zaman kerajaan, kolonial hingga milenial. Sungai Kalimas merupakan salah satu sungai tertua sekaligus terbesar yang membelah kota Surabaya.

Muara Kalimas merupakan pelabuhan tradisional Surabaya yang telah digunakan sejak berabad-abad lalu. Salah satu kawasan penting di bantaran Kalimas yang sangat familiar dari dulu hingga kini adalah Bandar Kampoeng Baroe.

Menurut Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Airlangga Purnawan Basundoro, di Kalimas hilir mudik sampan dan perahu kecil mengangkut barang komoditas. Sehingga fungsi awal sungai itu untuk pendaratan perahu-perahu kecil, tempat pendaratan inilah kemudian disebut dengan bandar atau bandaran karena di sepanjang sungai itu dulunya banyak sekali perahu-perahu berjejeran.

“Bahkan yang di sisi barat dulu namanya tambatan Williams, sedangkan sebelah timur dimana Kampoeng Baroe berada itu juga digunakan sebagai akses perdagangan. Tetapi saya kira hanya untuk perdagangan antar pulau saja,” terangnya.

Kemudian di Kampoeng Baroe itu juga dijadikan pergudangan untuk menyimpan komoditas-komoditas yang diturunkan dari kapal besar.

Purnawan memperkirakan, dulunya, kawasan Kampoeng Baroe merupakan daerah kosong yang kemudian banyak didatangi pendatang dari banyak daerah yang menyebabkan orang-orang tersebut kemudian tinggal di sana, sehingga menjadi pemukiman di tepi sungai.

“Saya kira, munculnya Bandar Kampoeng Baroe itu karena ada banyak pendatang ke sana. Kawasan-kawasan kosong itu kemudian mulai dibangun rumah-rumah,” tuturnya.

Selain itu, dikutip dari buku Asia Maior sekitar tahun 1918 sudah didapati nama Kampoeng Baroe. Sedangkan bandar sendiri merupakan bahasa Jawa yang berarti pelabuhan. Memang dulu pelabuhan di Surabaya sebelum pada akhirnya pindah ke Tanjung Perak, berada di sekitar Jembatan Merah.

Di peta pada tahun 1905, kampung ini disebut bandaran. Bahkan menurut Von Faber sekitar abad 19, daerah bandaran juga dikenal sebagai lokalisasi. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek
#Kalimas pusat dagang surabaya #perahu kalimas zaman belanda #bandar kampoeng baroe kalimas #tambatan williams kalimas