Karena sudah terlalu lama bong Tionghoa dan tidak banyak diziarahi oleh keluarga, akhirnya banyak berdiri bangunan liar semi permanen. Tidak digunakan untuk permukiman, melainkan digunakan sebagai tempat prostitusi.
Berkembangnya prostitusi di kawasan tersebut ketika salah satu pemilik rumah bordir yang terkenal dengan nama tante Dolly mengepakkan bisnis rumah bordir itu semakin pesat. Karena menyajikan banyak pekerja seks komersial (PSK) dari berbagai daerah dan sangat cantik.
Dari situlah usaha tante Dolly semakin terkenal. Dan nama bong pun berubah menjadi nama Dolly di tahun 1980. Nama besar Dolly terkenal hingga mancanegara.
Namun tahun 2014, masa keemasannya sudah mati sejak 18 Juni 2014. Gang Dolly telah ditutup di era Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini karena telah menyalahi Perda Nomor 7 Tahun 1999 tentang larangan bangunan dijadikan tempat asusila.
Kini Dolly sudah berubah menjadi kawasan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Pemkot Surabaya telah memberikan intervensi kepada UMKM yang ada di Dolly. Tak hanya itu, di sana juga berdiri pondok pesantren.
Uniknya, pondok tersebut terletak dibangunan bekas lokalisasi. 18 Mei 2018, Pemkot Surabaya mendukung ada kampung Inggris atau tempat belajar bahasa Inggris bagi warga setempat di kawasan eks lokalisasi gang Dolly.
Selain itu, Pemkot Surabaya juga bersiap membangun sentra batu akik dan pasar burung di eks-lokalisasi Dolly.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, saat ini di kawasan Dolly telah dilakukan program pengembangan dan sudah dibuatkan perencanaan, serta penelitian. Program pengembangan tersebut salah satunya adalah kawasan wisata yang diharapkan bisa diterapkan pada tahun 2022 ini.
“Karena kajian dan studi sudah dilakukan bersama masyarakat sekitar Dolly. Ada wisata Dolly, ada perkembangan dan pergerakan ekonomi melalui UMKM,” ujar Eri.
Dari data yang dihimpun saat ini, di kawasan Dolly ada sekitar 50-an UMKM yang tersebar. Bahkan UMKM tersebut sudah banyak menghasilkan, mulai dari seragam sekolah hingga sepatu.
Ada juga Dolly Saiki Point (DSP) yang merupakan tempat oleh-oleh khas rumah kreatif hasil karya warga setempat. Mulai dari pakaian dan kain batik hingga aksesoris lainnya lengkap berada di sana.
“Untuk yang batik Dolly ini punya ciri khas tersendiri yang unik dan menarik. Perpaduan kontemporer, klasik dan tradisional," terangnya. (rmt/nur) Editor : Lambertus Hurek