Panti Asuhan Santa Yulia dibangun pada 15 Juli 1862. Di mana awalnya ada seorang wanita asal Belanda bernama Nyonya Boers mendapatkan inspirasi untuk melaksanakan tugas sosial membantu manusia.
Gagasannya membangun sebuah gedung untuk rumah yatim piatu. Gagasan tersebut akhirnya terwujud pada tahun 1862 berupa bangunan gedung panti asuhan bergaya arsitektur Eropa.
"Nyonya Boers telah memelopori dan merintis kegiatan rumah anak yatim. Sampai sekarang bangunan ini sudah berusia satu setengah abad," ujar Suster Maria Asilla, pengurus panti asuhan tersebut.
Maria menambahkan, setelah dibangun, panti asuhan diberi nama Panti Asuhan Santa Yulia. Dahulunya cukup sederhana. Meski demikian, panti asuhan sudah banyak menampung anak yatim.
Pada tahun 1926, lanjut Marisa, pengelolaan pimpinan diambil alih suster Ursulin, kemudian sempat diganti nama menjadi Panti Asuhan Santa Ursula. Namun, pada Juli 1950 Panti Asuhan Santa Ursula mengalami masa peralihan dengan adanya pergantian fungsi pimpinan Panti Asuhan Santa Yulia yang ditangani Suster Ursulin diserahterimakan kepada Suster–Suster Santa Perawan Maria.
"Sejak saat itu nama Panti Asuhan Santa Ursula berganti nama menjadi Panti Asuhan Santa Yulia," terangnya.
Suster asal Sleman ini menambahkan, bangunan gedung panti asuhan belum pernah dipugar. Bangunan tersebut berlantai dua. Uniknya, teras lantai satu menuju pintu depan bangunan panti asuhan terbuat dari beton.
Untuk ruang panti asuhan di lantai satu sendiri terdiri dari beberapa ruangan. Mulai dari ruang tamu yang memiliki 12 jendela, ruang belajar, ruang makan, dan ruang galeri (teras).
"Jendela-jendelanya dan tegel lantai masih asli. Untuk lantai dua digunakan tempat tidur anak-anak," katanya.
Selain di bagian jendela, bangunan dinding teras kanan-kiri panti asuhan juga cukup unik. Dinding terasnya dibentuk seperti kubah. "Paling diperbaharui catnya saja," paparnya.
Menurut dia, para penghuni asrama selain bersekolah, juga dapat pendidikan agama dan tentang kehidupan oleh suster-suster panti asuhan. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek