Di Jalan Karet pun masih dijumpai Rumah Sembahyang Keluarga Han, Rumah Sembahyang Keluarga The, dan Rumah Sembahyang Keluarga Tjoa. Ketiga rumah sembahyang tiga keluarga konglomerat Tionghoa tempo doeloe itu telah dimasukkan dalam daftar bangunan cagar budaya di Kota Surabaya.
Nama-nama jalan di kawasan itu perdagangan itu umumnya masih sama seperti zaman Belanda. Cuma disesuaikan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Nah, nama Jalan Karet baru resmi dipakai setelah tahun 1966. Setelah rezim Orde Baru berkuasa.
Mengutip salah satu iklan di koran Sin Jit Po Nomor 1 Tahun 05, 3 Januari 1928, tertera nama Chineesche Voorstraat sama dengan Petjinan Kulon. Artinya, sejak zaman Belanda Jalan Karet ini punya dua nama.
"Setelah kemerdekaan baru dipakai nama Jalan Petjinan Kulon (Pecinan Kulon)," kata Shinta Rahayu, pemerhati masalah Tionghoa dari Universitas Airlangga.
Setelah peristiwa 30 September 1965, semua nama yang berbau Tionghoa diganti. Maka Jalan Pecinan Kulon pun diganti jadi Jalan Karet. Jalan Bakmi yang tak jauh dari Kembang Jepun berganti jadi Jalan Samudra. Jalan Peping jadi Jalan Simolawang Baru. (rek) Editor : Lambertus Hurek