Gedung Suara Indonesia itu berdampingan dengan gedung Jawa Pos yang juga bangunan cagar budaya. "Gedung ini dijadikan bangunan cagar budaya karena arsitektur bangunan kolonial ini sebagai penunjang kawasan kota lama," begitu penjelasan tim cagar budaya Kota Surabaya.
Banyak orang terkecoh dengan nama Suara Indonesia. Dikira surat kabar Suara Indonesia yang merupakan nama lama Radar Surabaya sebelum 24 Januari 2001. Apalagi harian Radar Surabaya berkantor di gedung lama Jawa Pos, Jalan Kembang Jepun 167 Surabaya.
Lalu, kantor apa sebetulnya Suara Indonesia atau X4 itu?
Berdasar catatan lama Radar Surabaya, kantor Suara Indonesia di Jalan Kembang Jepun 165 itu tempo doeloe jadi kantor Bond van Huiseigenaren. Semacam asosiasi para pemilik rumah di kawasan Surabaya Utara pada masa Hindia Belanda hingga tahun 1950-an.
Direktur Bond van Huiseigenaren Surabaya pada tahun 1950-an Poeh Toeng Chan. Meski Belanda-Belanda sudah kembali ke negaranya fungsi kantor itu masih dipertahankan. Tetap urusan administrasi properti atau kepemilikan rumah, gudang, dan sebagainya.
"Makanya kantor itu kelihatan seperti tutup terus. Padahal ada pegawai yang sibuk kerja di dalam," kata Suryadi, karyawan Jawa Pos sejak awal 1980-an yang mengenal staf Suara Indonesia.
"Orangnya senang pakai mesin ketik manual lawas meski sekarang semua orang pakai komputer," kata Suryadi.
Seperti gedung Jawa Pos tetangganya, kantor Bond van Huiseigenaren itu pun tidak berubah sejak dulu. Tetap megah dan jadi salah satu tetenger di Surabaya Utara, khususnya Kembang Jepun. Karena itu, Pemkot Surabaya menetapkannya sebagai bangunan cagar budaya nomor urut 83 pada tahun 2009. (rek) Editor : Lambertus Hurek