Nama kampung Ketintang ternyata diambil dari aktivitas dan suasana kampung yang dulunya dipenuhi suara tang.. ting.. tang... Suara itu berasal dari besi yang ditempa.
"Di kampung yang dulunya persawahan itu warganya banyak yang membuka usaha sebagai pembuat senjata seperti tombak, keris, pisau, dan alat-alat pertanian dengan bahan baku besi," ujar pengamat sejarah Nanang Purwono.
Pusat dari kampung Ketintang kini menjadi Kelurahan Ketintang, yakni di wilayah Ketintang Kulon atau yang kini dikenal sebagai Ketintang Barat.
Nanang menuturkan, Ketintang merupakan bagian dari wilayah Kampung Karangrejo yang berupa pekarangan dan sawah. Di Ketintang dahulu merupakan persawahan, banyak sawah di sana.
"Sesepuh kampung atau orang yang babat alas diyakini adalah Mbah Wijil atau Mbah Wazir, itu berdasarkan kisah sejarah dan silsilah wilayah tersebut” jelasnya.
Mbah Wijil ini adalah anak dari Nyai Ayu dan Abdulah dari Kampung Sidosermo, yang membangun rumah dan tinggal di tengah persawahan Ketintang. Kemudian dia juga membangun langgar atau yang kini telah menjadi masjid dengan nama Al-Muttaqin.
Setelah mereka datang, kemudian banyak orang yang ikut datang dan bermukim di sekitar rumah Mbah Wijil untuk mensuplai kebutuhan akan alat-alat pertanian warga petani di Karangrejo dan sekitarnya.
Jadilah kawasan itu menjadi tempat produksi alat-alat pertanian dari bahan besi seperti pisau, sabit, cangkul, dan lain sebagainya. Karena membuatnya dengan menempa besi yang dibakar atau yang lebih dikenal dengan pande besi, maka suasana kampung di Ketintang Barat itupun diiringi suara tang ...ting...tang....
"Karena suara-suara itu kemudian kampung itu dijuluki Ketintang," jelasnya.
Mbah Wijil dimakamkan di samping Masjid Al-Muttaqin yang ada di Ketintang Barat Gang II. Dan sejak tiga tahun terakhir, tiap tahun digelar haul Mbah Wijil yang acaranya dilakukan dua bulan sebelum bulan puasa.
Setelah kedatangan Mbah Wijil, perkembangan Kampung Ketintang bertambah dengan kedatangan Syeh Sayid Ali Abidin, yang datang untuk menyebarkan agama Islam.
"Makam Syeh Sayid Ali Abidin letaknya tak jauh dari makam Mbah Wijil, tepatnya di belakang Kantor Kelurahan Ketintang di Jllalan Ketintang Madya juga dikeramatkan," imbuhnya.
Selain dikenal sebagai sentra pande besi, Kampung Ketintang juga dikenal sebagai penghasil padi. Hal itu pula yang membuat pabrik pengolahan padi dibangun di daerah Ketintang di zaman Belanda. Pabrik yang berdiri megah di Jalan Ketintang Madya tersebut pada temboknya tertulis dibangun tahun 1900. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek