Selain ada makam yang terletak di tengah pemukiman, di sana juga terdapat makam keramat Mbah Sanusi. Dia adalah salah satu tokoh dari pecahan Laskar Pangeran Diponegoro yang sedang melakukan pelarian dari kejaran pasukan Kolonial Belanda.
Pegiat Sejarah Kota Surabaya Kuno TP Wijaya menjelaskan, Mbah Sanusi adalah pengikut Pangeran Diponegoro pada saat penjajahan Kolonial Belanda. Ketika Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda, para pengikutnya banyak yang kabur ke berbagai kota/kabupaten di Jawa.
“Salah satunya adalah Mbah Sanusi ini, beliau melarikan diri ke Surabaya dan tinggal di sekitar Undaan,” kata TP Wijaya kepada Radar Surabaya
Menurut kisah orang terdahulu, kawasan Undaan jadi tempat persembunyian laskar Pangeran Doponegoro, Mbah Sanusi. Menurut penafsirannya, Mbah Sanusi meninggal pada akhir tahun 1860-an. Sehingga warga pribumi yang sejak dulu tinggal di kawasan ini mengkeramatkan makam tersebut.
Ketika memasuki perkampungan di sekitar Peneleh, Grogol, Kelimbungan dan sekitarnya, akan melihat beberapa makam penduduk pribumi. “Jadi banyak tiap gang-gang ada makamnya, salah satunya makam keramat itu (makan Mbah Sanusi),” ucapnya.
Tak hanya kisah perjuangan heroik Surabaya hingga dijuluki sebagai Kota Pahlawan, beberapa daerah di Surabaya juga memiliki kisah heroik dan bersejarahnya masing-masing. Hal tersebut turut menjadi cerita dan sejarah lokal kawasan tersebut hingga tetap dikenang dan dilestarikan masyarakatnya. Sebagian turut membentuk sejarah kawasan tersebut. (mus/nur) Editor : Lambertus Hurek