Salah satu peninggalan dan saksi penjajahan dapat dilihat di Jalan Sulung, tepatnya di belakang gedung Bank Mandiri. Di sana terdapat sebuah bangunan gudang bekas bengkel alat militer seperti tank, senapan mesin, alat berat dan lain sebagainya di zaman penjajahan Jepang.
Bangunan megah nan kokoh di Jalan Sulung tersebut hingga kini masih berdiri dan dijadikan bangunan cagar budaya menyatu dengan gedung Bank Mandiri.
Menurut Sejarahwan sekaligus pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika, tempat ini selain dijadikan gudang dan tempat servis peralatan tempur juga untuk displai alat-alatnya.
“Gedung itu bagian belakang Lindeteves Stokvis (sekarang Bank Mandiri), tempat penjualan alat, mesin berat, maupun ringan. Bagian belakang untuk displai alat-alatnya, bagian depan kantornya,” kata Chrisyandi.
Bangunan ini dirancang sebagai kantor dan pabrik. Ketika melintas di Jalan Sulung, bangunan gedung tersebut berdiri megah di sebalah kiri menghadap ke timur sungai Kalimas. Bangunan ini juga memiliki atap yang luas dan tinggi.
Kontruksinya pun juga kokoh, terbuat dari rangka baja dan pintu masuknya juga lebar. Ketika dibuka pintu ini dapat digeser ke samping kiri dan kanan. “Bangunannya jadi satu (dengan Lindeteves Stokvis). Belakang itu kan pintunya lebar sehingga memudahkan alat tempur keluar dan masuk,” ujar Chrisyandi.
Pada pendudukan Jepang tahun 1942-1945, bangunan ini disebut Kitahama Butai, bengkel kendaraan perang bala tentara Jepang dan sekaligus gudang persenjataan. Setelah itu gedung tersebut juga sempat berpindah tangan beberapa kali. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek