Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

PPI Didirikan dr Soetomo untuk Menolong Korban PHK

Lambertus Hurek • Senin, 7 Februari 2022 | 02:51 WIB
Petugas satpol PP mengawasi kawasan PPI Surabaya. (JAWA POS)
Petugas satpol PP mengawasi kawasan PPI Surabaya. (JAWA POS)
SURABAYA - Kawasan PPI yang ada di Jalan Gresik Surabaya dulunya didirikan oleh Dr Soetomo. Kawasan itu didirikan untuk menolong korban dampak pemutusan hubungan kerja.

Pegiat Sejarah Nur Setiawan mengatakan, konon nama PPI merupakan singkatan Pemberantas Penganggoeran Indonesia sebuah organisasi yang didirikan oleh Dr Soetomo. Karena di tahun 1930 Surabaya menjadi salah satu kota yang terimbas krisis ekonomi. Di mana-mana terjadi PHK.

Para buruh Bumiputera yang tak mampu membayar sewa kamar dan kontrakan akhirnya bertahan hidup sebagai gelandangan. Kolong jembatan, emperan toko hingga tanah-tanah kosong dekat rel kereta api menjadi ruang untuk bertahan hidup.

"Dr Soetomo pun memutuskan untuk membuat tempat penampungan di sepanjang rel kereta api Staatsspoor (SS) di kota Surabaya, terdapat sekitar tujuh puluh orang korban pemutusan hubungan kerja. PPI didirikan untuk menolong korban krisis ekonomi dengan mengumpulkan orang-orang terdampak yang jumlahnya tak sedikit," ujar Nur Setiawan.

Bahkan PPI sempat menyewa lapangan milik gemeente (pemerintah) di wilayah Griseescheweg, kini Jalan Gresik. Di tempat inilah kemudian dibangun petak-petak untuk menampung orang-orang yang kurang beruntung, pengangguran, tunawisma, pengemis dan lain-lain. Pada 1932 jumlah orang yang tinggal di pondok PPI berjumlah 182 jiwa, dan dari tahun ke tahun jumlahnya semakin meningkat. "Nah akhirnya kawasan tersebut lebih dikenal saat ini sebagai Gang PPI," jelasnya.

Kawasan yang terletak di Surabaya Utara itu, kata pria yang akrab disapa Wawan ini, memang menjadi tempat kaum urban untuk mengadu nasib. Sekitar bulan April 1952 pemerintah mengadakan razia tunawisma atau penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Dari razia itu terjaring sebanyak 1.898 jiwa. Para tunawisma tersebut kemudian dikembalikan ke daerah asalnya.

“Tahun 1960-an lahan bekas PPI yang tadinya kosong mulai dihuni oleh pendatang baru, kaum urban yang mengadu nasib di Kota Surabaya. Lahan ini kemudian menjadi perkampungan heterogen dengan segala perkembangan sosialnya," pungkasnya. (rmt/nur) Editor : Lambertus Hurek
#Gang PPI Surabaya #Dr Soetomo PPI #PPI pemberantasan pengangguran Indonesia #sejarah PPI Surabaya