Saking fenomenalnya, banyak calon jemaah haji yang memburu oleh-oleh hajinya di Pasar Bong. Mulai dari sarung, sajadah, kerudung, mukena, kopiah, sorban, hingga teko. Ada banyak lapak yang menjual berbagai busana muslim di pasar yang berada di gang yang berlekuk-lekuk itu.
Uniknya lagi, para pedagang seperti multi ras. Ada yang mirip Tionghoa, ada pula yang berwajah Arab. Rupanya selain banyak dihuni orang Jawa, para pedagang juga banyak yang keturunan Tionghoa dan Arab. Mereka hidup rukun di pasar yang menjadi pusat grosir busana muslim itu.
"Ada banyak pilihan busana muslim. Memang kalau seperti saat ini tak seramai saat musim haji. Kalau musim haji, selain di Ampel banyak yang memburu oleh-oleh ke sini. Harganya juga murah, karena kan ada yang grosiran juga," ujar Nur Hidayah, salah seorang pedagang.
Konon Pasar Bong adalah kawasan pemakaman Tionghoa. Makan Tionghoa yang khas dengan bangunan yang tinggi-tinggi disebut Bong. Sehingga setelah menjadi kawasan yang padat seperti pasar, maka pasar itu dikenal sebagai Pasar Bong.
Sementara dalam catatan Ong Hok Ham dalam karyanya berjudul Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa, ada makam Han Bwee Kong alias Han Bwee Sing. Dia merupakan orang pertama dari keluarga Han yang menjabat sebagai Kapitan Tionghoa di Surabaya.
"Memang dikenal sebagai kawasan Tionghoa sebenarnya. Yang paling dikenal dulunya ya makam-makam Tionghoa. Namun penelusurannya masih diperlukan lagi karena sebenarnya menyimpan banyak sekarang," ujar pegiat sejarah Suhartono. (far/nur) Editor : Lambertus Hurek