Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Asal Usul Jalan Kembang Jepun dan Keberadaan Karayuki-san di Surabaya

Administrator • Minggu, 16 Januari 2022 | 21:19 WIB
LEGENDARIS: Pintu masuk Jalan Kembang Jepun di Surabaya berupa gerbang naga kembar. (ISTIMEWA)
LEGENDARIS: Pintu masuk Jalan Kembang Jepun di Surabaya berupa gerbang naga kembar. (ISTIMEWA)
SURABAYA - Kembang Jepun merupakan nama jalan legendaris di Kecamatan Pabean Cantikan. Pada era pemerintah kolonial Belanda, nama jalan di timur Jembatan Merah ini adalah Handelstraat yang artinya jalan perdagangan.

Sejarawan Universitas Airlangga Purnawan Basundoro mengatakan, sebagai pusat perdagangan, Handelstraat membentang mulai Jalan Rajawali hingga Jalan Kembang Jepun sekarang.

“Sesuai nama jalannya, maka rumah di kawasan tersebut juga memiliki fungsi sebagai rumah dagang. Jadi tidak hanya untuk tempat tinggal saja, melainkan juga berdagang,” ujarnya.

Guru Besar Ilmu Sejarah ini menambahkan, tanda bahwa sejak dahulu kawasan tersebut sudah menjadi pusat perdangangan adalah dapat dilihat dari nama beberapa tempat yang menjadi pusat penimbunan komoditas sebelum diekspor.

Salah satunya adalah Jalan Suiker Straat, yang secara harfiah memiliki makna Jalan Gula. “Kemungkinan di sana dulunya ada gudang gula di sana,” jelasnya.

Menurutnya, nama Kembang Jepun berawal dari suatu rumah di kawasan itu yang berisikan wanita Jepang. Kembang berarti bunga dan Jepun adalah Jepang.

Photo
Photo
Karayuki-san, para wanita Jepang yang bekerja sebagai wanita penghibur di luar negeri termasuk di kawasan Asia. (ISTIMEWA/MOTHERSHIP.SG)

“Jika digabungkan, memiliki makna wanita Jepang. Keberadaan rumah tersebut diduga ada sekitar tahun 1920. Rumah hiburan tersebut dalam bahasa Jepang dinamakan Karayuki-san,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Sejarawan Universitas Airlangga lainnya Shinta Devi Ika Santhi Rahayu. Menurutnya, penyebutan Kembang Jepun karena di sana banyak terdapat penginapan, serta warung yang ditinggali perempuan Jepang.

Mereka memiliki paras cantik dan berprofesi sebagai karayuki san. “Jadi Karayuki-san merupakan perempuan penghibur Jepang yang mulai menyebar ke berbagai negara di era Restorasi Meiji. Diperkirakan sekitar tahun 1860-an mereka mulai masuk ke Surabaya,” katanya.

Shinta mengatakan, Karayuki-san berbeda dengan gheisa. Sama-sama perempuan penghibur, namun karayuki san lebih ke arah pekerja seks komersial.

Menurutnya, kala itu sebagai pusat perdagangan, pemerintah kolonial Belanda memberikan kewenangan kepada masyarakat Jepang untuk tinggal di kawasan yang lebih dikenal dengan kawasan pecinan ini.

“Masyarakat ini membuka berbagai macam usaha, misalnya restoran atau penginapan. Nah, penginapan inilah yang menyediakan Karayuki-san,” pungkasnya. (mus/nur) Editor : Administrator
#Pecinan Surabaya #Karayuki-san #jalan kembang jepun