Pegiat Sejarah Surabaya Nur Satriawan menceritakan, dam tersebut dibuat untuk membagi air di Kalimas, agar ada buka tutup jika ada kelebihan debit air. "Dam ini dibangun saat itu agar wilayah Surabaya Utara tidak banjir," jelasnya.
Belanda begitu teliti saat itu untuk menata kota Surabaya. Mereka tidak sayang anggaran karena menganggap akan selamanya menjajah Indonesia. Sehingga banyak bangunan permanen yang dibuat dengan bahan dan arsitektur yang kokoh. Ini juga yang dilakukan saat membangun Dam Gubeng ini.
Dam tersebut dulunya bisa dilalui perahu yang hendak mengirim barang melalui Kalimas. Ada salah satu pintu yang bisa dibuka tutup untuk dilalui perahu. Hiruk pikuk perdagangan juga tetap menjadi salah satu pertimbangan saat membangun dam ini.
"Dulu bisa dilalui karena air masih tinggi. Sehingga antara sisi utara dan selatan sama tinggi debit airnya," ungkapnya.
Melihat begitu vitalnya Dam Gubeng untuk menanggulangi banjir di wilayah Surabaya Utara, sempat hendak dihancurkan. Saat itu, pejuang kemerdekaan hendak merobohkan dam ini untuk membuat banjir Surabaya Utara yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Belanda. "Untungnya ide tersebut tidak dilaksanakan, sehingga kita bisa melihat keindahan dam ini," tuturnya. (gun/nur) Editor : Lambertus Hurek