"Jembatan Peneleh dibangun tahun 1890-an. Arsiteknya siapa belum teridentifikasi," ujar pegiat sejarah Nanang Purwono, kepada Radar Surabaya.
Nanang menjelaskan, Jembatan Peneleh dibangun dengan konstruksi besi baja pada bagian tiang dan pagarnya. Sementara pada bagian trotoarnya menggunakan kayu jati lama. Jembatan ini, lanjut Nanang, dibangun hampir bersamaan dengan Jembatan Merah yang menghubungkan kawasan Eropa dan Pecinan.
"Jembatan Merah pondasinya sudah diganti beton. Sementara Jembatan Peneleh masih asli belum pernah dipugar," ucapnya.
Jembatan Peneleh sendiri menghubungkan wilayah Peneleh dan Alun-alun Contong. Pada zaman dahulu pembangunan jembatan ini bertujuan untuk menghubungkan dua wilayah, mempermudah komunikasi dan transportasi.
"Dahulu beberapa titik yang dianggap penting dibangun jembatan. Paling tua Jembatan Merah, kemudian selatannya ada Jembatan Bibis, ke selatan lagi Jembatan Peneleh," terangnya.
Koordinator Begandring Soerabaia ini menuturkan, pada tahun 1945 Jembatan Peneleh menjadi saksi pertempuran antara arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu. Para pejuang yang berasal dari Peneleh dan Pandean menggunakan Jembatan Peneleh untuk menghadang pasukan sekutu yang datang dari arah utara (Jalan Pahlawan).
"Di situ (Jembatan Peneleh) dan Alun-alun Contong lokasi pertempuran pejuang melawan tentara sekutu pada November 1945," paparnya.
Penulis Buku Benteng-benteng Soerabaia ini menyebutkan, pejuang yang berasal dari Pandean, Peneleh menghadang tentara sekutu dari atas dan bawah jembatan. Sementara pejuang yang berasal dari Bubutan, Alun-alun Contong, Keraton berada di sisi barat jembatan.
"Di pagar jembatan situ juga ada bekas peluru, satu lubang dan satu penyok. Kini jembatan tersebut sudah ditetapkan sebagai cagar budaya," tandasnya. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek