Pria yang kini berusia 72 tahun ini mengaku terakhir mencukur sekitar satu bulan sebelum Covid-19 masuk ke Indonesia. Selama pandemi, ia bertahan hidup dengan mengandalkan tabungan. "Dulu kalau sebelum pandemi, saya memasang tarif Rp 40.000 untuk setiap kali mencukur," katanya.
Dari pantauan Radar Surabaya di lokasi, Shin Hua tetap mempertahankan bentuk awalnya. Dekorasi tata letak kursi, cermin hingga papan nama dalam aksara Han. Saat ini hanya tinggal enam kursi untuk cukur rambut.
Shin Hua didirikan oleh Tan Shin Tjo pada tahun 1911. Dalam bahasa Indonesia Shin Hua berarti baru mekar. "Ayah saya berasal dari Hokkiu, Tiongkok yang mengadu nasib di Surabaya. Jadi waktu itu buka mulai pukul 6 pagi hingga 6 petang. Ayah saya mendatangkan 20 kursi langsung dari Tiongkok," jelasnya.
Eddy mengatakan, ayahnya memiliki 17 anak, namun yang mau meneruskan untuk menjadi tukang cukur hanya dirinya. "Jadi ayah saya punya dua istri. Yang istri dari Tiongkok punya anak lima, sedangkan ibu saya asli Jawa dari Malang. Tapi yang neruskan usaha ayah ya cuma saya, sekitar tahun 1965," terangnya.
Eddy mengatakan, kalau dirinya pernah didatangi timnya Presiden Joko Widodo yang menulis buku terkait pangkas rambut terlama di Indonesia. Jadi Shin Hua ditetapkan sebagai pangkas rambut terlama di Indonesia. (mus/nur) Editor : Lambertus Hurek