Kampung ini masuk dalam kawasan bekas Keraton Surabaya. Uniknya, saat ini kampung Tambak Bayan dihuni mayoritas penduduk etnis Tionghoa dan dikenal sebagai Kampung Pecinan Tambak Bayan.
Pakar Sejarah Universitas Airlangga Purnawan Basundoro mengatakan, di kampung Tambak Bayan dahulu masuk kawasan kompleks Keraton Surabaya. "Di situ kan bagian dari perkampungan lama (kawasan) Keraton Surabaya. Karena itukan nyambung dengan kawasan alun-alun," ujarnya.
Dia menambahkan, dalam buku G.H Von Vaber, kampung Tambak Bayan sudah ada sejak tahun 1275 atau abad ke-13 masehi. Dalam peta tersebut kampung-kampung di Surabaya, salah satunya Tambak Bayan berada di tepi Kalimas.
"Kalau lihat di peta, di kanan kiri sungai sampai ke bagian muara sudah banyak kampung. Tapi konsentrasi paling banyak ya di sekitar alun-alun (kini Tugu Pahlawan) situ," ungkapnya.
Setelah kedatangan Belanda, kampung Tambak Bayan semakin berkembang. Salah satu buktinya di sekitar Jalan Tambak Bayan Tengah ada bangunan besar bekas istal kuda. "Bangunan istal kuda dibangun sekitar tahun 1866 M," ungkap Ketua RT 02 RW 02 Tambak Bayan Tengah Suseno Karja.
Bangunan tersebut memiliki luas sekitar 3.800 meter persegi. Konon dahulu pada bagian tengah bangunan digunakan tempat tinggal pemilik kuda, yakni orang Belanda. "Sementara bagian sayap digunakan istal kuda," ucapnya.
Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 1930-an, bangunan bekas istal kuda tersebut ditempati pendatang asal Tionghoa. Mereka berasal dari kalangan menengah ke bawah.
"Mayoritas penduduk kampung etnis Tionghoa. Jadi disebut kampung Pecinan, namun juga ada penduduk dari suku Jawa dan lainnya," bebernya.
Salah satu tokoh pemuda Kampung Tambak Bayan Lim Kiem Hau menambahkan, mayoritas saat ini warga yang menempati bekas istal kuda adalah generasi ketiga.
Selain tukang kayu, penduduk Kampung Tambak Bayan juga bekerja sebagai koki dan penjahit. Meski hidup sederhana, warga Kampung Tambak Bayan cukup harmonis dan saling berdampingan.
Tak hanya itu. Mereka juga masih mempertahankan adat istiadat Tionghoa. Suasana Tionghoa juga cukup kental dengan ornamen-ornamen khas Tionghoa seperti lampion. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek