Menurut situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bahwa secara umum pameran adalah salah satu bentuk penyajian karya seni agar dapat berkomunikasi dengan pengunjung. Dalam hal ini, BPCB Jatim kiranya ingin menyampaikan pesan penting tentang Cagar budaya kereta api kepada publik.
Mendengar kabar pameran ini, saya sangat bersemangat dan ingin mengetahui apa yang akan dipamerkan. Cagar Budaya Kereta Api apa yang akan disajikan. Saya tidak memiliki gambaran apakah pameran itu akan menyajikan foto foto tentang kereta api atau akan menampilkan benda benda terkait dengan sejarah kereta api.
Apapun yang dipamerkan, kiranya pihak penyelenggara berharap adanya upaya upaya pelestarian cagar budaya kereta api oleh elemen masyarakat, terutama stakeholder yang berkenaan dengan kereta api. Kabar tentang pameran ini langsung mengingatkan saya terhadap bangunan Cagar budaya Stasiun Kota. Mengapa?
Bangunan Cagar budaya dengan nomor registrasi 188.45/251/402.1.04/1996, tanggal 26 September 1996 ini sempat menjadi korban pembongkaran yang terjadi pada 2003. Mengutip Liputan6.com (8/6/2003) bahwa terlapor atas pembongkaran bangunan Cagar budaya itu adalah PT. KAI sendiri.
Pelapor adalah Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Badan Perencana Pembangunan Kota (Bappeko) yang melaporkan kepada Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya karena dinilai melanggar Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Bangunan Cagar Budaya. Inti laporan itu adalah PT KAI Daops VIII dinyatakan merusak bangunan bersejarah.
Sementara pihak PT KAI Daops VIII Surabaya sempat menyatakan bahwa mereka tidak tahu sama sekali bila Stasiun Semut termasuk bangunan cagar budaya. Pernyataan ini disampaikan di hadapan Komisi E DPRD Jatim dan Pemkot Surabaya kala itu. Pembongkaran Stasiun di Jalan Stasiun Kota itu rencananya untuk dijadikan rumah toko.
Ketika itu pada Juni 2003, saya sempat datang dan melihat kondisi bangunan stasiun setelah aksi pembongkaran. Semua atap stasiun dan tiang tiang besi cor pada bangunan pendukung sudah hilang. Yang tersisa adalah tembok bangunan dan tiang tiang utama pada emplasemen.
Ketika itu, dari luar (Jalan Stasiun Semut) kegiatan pembongkaran relatif tidak kelihatan. Apalagi pada bagian depan Stasiun ditutupi seng yang tinggi. Ketika aksi pembongkaran diketahui oleh wartawan di Surabaya, kondisi bangunan sudah sangat memprihatinkan.
REVITALISASI
Hampir selama 10 tahun kondisi bangunan stasiun sangat menggenaskan. Baru pada Juni 2012, bangunan stasiun Kota ini mulai direnovasi. Pada 2015, bangunan stasiun kembali utuh tetapi ada beberapa bagian dari kontruksi bangunan yang tidak bisa kembali. Sejak 2015 hingga sekarang (November 2021) belum ada tanda tanda akan dimanfaatkannya kembali bangunan stasiun ini. Pernah tersiar kabar bahwa stasiun Surabaya Kota akan dipakai sebagai stasiun komuter.
Dari pengamatan Sabtu sore (20/11/2021), bagian depan stasiun masih ditutup seng, di bagian barat stasiun sudah tersedia halaman parkir kendaraan yang luas, begitu pula belasan toilet baru yang dimodel bangunan lawas.
Tapi sayang, emplasemen yang asalnya memiliki dua spoor (jalur rel) di bawah atap utama sudah tidak bisa difungsikan atau dilewati kereta api. Kondisinya telah dipaving dan satu spoor sisi utara hanya dipakai sebagai memorabilia.
Relnya masih asli, termasuk bantalan rel yang masih berupa kayu. Praktis emplasemen utama tidak bisa dipakai lagi, kecuali spoor di selatan barisan tiang stasiun. Terlihat rangkaian gerbong tengah terparkir di sana.
Sejatinya, Stasiun Semut merupakan stasiun kereta api tertua di Jatim yang dibangun pada tahun 1870-an, yang kala itu menghubungkan Surabaya dan Bangil (Pasuruan). Jaringan kereta api Surabaya dan Bangil ini adalah jaringan ketiga di Jawa setelah Kedu dan Semarang di Jawa Tengah dan Buitenzorg–Batavia (Bogor-Jakarta) di Jawa Barat. Ketika stasiun dibangun pada 1870-an, lokasi bangunan tidak seperti apa yang bisa dilihat sekarang. Tetapi masih ke arah barat di sekitar Bibis.
Bangunan stasiun ini berhadapan langsung dengan bangunan kantor Staatspoorwagon (SS). Dalam foto lama sebagaimana termuat dalam buku Oud Soerabsia (GH von Faber), bangunan stasiun yang menggunakan arsitektur neoklasik ini tidak jauh dari jembatan Bibis. Nampak pada foto sosok Jembatan Bibis yang masih bisa dibuka tutup yang dalam bahasa Belanda nya disebut Ophaalbrug.
Pada 1890-an dibangun stasiun baru yang terletak sekitar 100 meter di sebelah timurnya. Bangunan stasiun inilah yang hingga kini masih bisa dilihat meski pernah mengalami pembongkaran pada 2003 lalu. Pada gawel bangunan, nampak angka tahun “anno 1899”. Sayang, hingga kini, masih belum diketahui kapan bangunan hasil renovasi ini akan dimanfaatkan.
PEMANFAATAN: STASIUN & MUSEUM
Pemanfaatan yang pantas atas bangunan stasiun ini adalah untuk stasiun kereta api. Tapi dari kondisi hasil renovasi, emplasemen utama yang dulunya terdapat dua spoor, kini sudah tidak bisa digunakan lagi. Kalau toh nantinya menjadi stasiun komuter, rangkaian komuter itu harus melintas di rel sisi selatan, yang dulu dikenal dengan spoor 3.
Dengan kondisi fisik seperti yang ada saat ini, maka selain sebagai stasiun komuter, kondisi bangunan dan emplasemen yang ada pantas dimanfaatkan sebagai museum Kereta api. Kota Surabaya layak memiliki sebuah museum Kereta api. Banyak riwayat dan sejarah tentang peran kereta api dalam perkembangan dan dinamika masyarakat di Jawa Timur, terutama Surabaya.
Secara fisik, keberadaan gedung stasiun cocok untuk display benda dan barang sebagai media edukasi. Bila perlu, PT KAI menempatkan dua lokomotif uap yang diambil dari museum Kereta api Ambarawa. Tempat untuk mendisay sudah ada. Yaitu di rel kuno yang masih insitu pada eks spoor 1. Selain itu, PT KAI juga bisa membawa kembali gerbong antik yang diambil dari stasiun Sidotopo. Kini gerbong antik itu ada di museum Ambarawa.
Dengan tambahan fungsi di bangunan stasion, maka stasiun Kota tidak hanya sekedar sebagai pendukung moda transportasi, tapi bisa memberi fungsi edukasi, ilmu pengetahuan, penelitian dan pariwisata. Kota Surabaya perlu mengupayakan stasiun Kota menjadi fungsi museum untuk menambah khasanah permuseuman di Kota Surabaya (Nanang Purwono*/Jay)
*) Pemerhati Sejarah Surabaya/Freelance Writer Editor : Administrator