Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sekolah Khusus Pribumi Zaman Belanda di Alun-Alun Contong

Lambertus Hurek • Jumat, 19 November 2021 | 03:21 WIB
CAGAR BUDAYA: SDN Alun-Alun Contong I-87 yang diresmikan tahun 1900 tersebut masih dimanfaatkan hingga saat ini.
CAGAR BUDAYA: SDN Alun-Alun Contong I-87 yang diresmikan tahun 1900 tersebut masih dimanfaatkan hingga saat ini.
SURABAYA - SDN Alun-Alun Contong I-87, Surabaya merupakan bangunan warisan sejarah yang masih digunakan hingga saat ini. Sejumlah tokoh nasional juga pernah mengajar maupun menjadi murid di sekolah tersebut. Seperti Roeslan Abdul Ghani yang diperkirakan lulus dari SDN Alun-Alun Contong tahun 1928.

Plt Kepala Sekolah SDN Alun-Alun Contong, I-87, Eddy Santoso menjelaskan, Roeslan Abdul Ghani merupakan Menteri Luar Negeri era Soekarno (orde lama) tahun 1956-1957 pernah bersekolah di SDN yang terletak tepat di belakang Gedung Pemerintah Provinsi Jawa Timur tersebut. Selain itu, nama besar Soekemi yang merupakan bapak dari Proklamator RI Soekarno juga mengajar di SD tersebut tahun 1989-1901.

"Apalagi bangunan sekolah itu merupakan Bangunan Cagar Budaya di Surabaya sesuai dengan SK Walikota No. 188.45/242/436.1.2/2014 tertanggal 28 April tahun 2014," katanya.

Ia menjelaskan, di sekolah tersebut masih terdapat 70 item benda sejarah yang ada di SDN Alun-Alun Contong I-87 yang saat ini masih dijaga dan dirawat. Bahkan ditempatkan di satu kelas seperti bangku besar jaman Belanda, papan tulis lipat tiga, buku-buku zaman Belanda hingga piala-piala sekolah era dulu.

Tak hanya itu, pihak sekolah juga sudah menyulap tembok dengan lukisan-lukisan yang menggambarkan tentang sejarah. Foto-foto Roeslan dan Megawati saat berada di sekolah tersebut juga dipampang. "Ya dulu pak Roeslan dan Bu Megawati pernah datang ke sini. Karena ketika itu dengar kalau jaman Gubernur pak Basofi Sudirman akan memugar bangunan. Jadi kedua tokoh tersebut datang untuk menyelamatkan sekolah ini," terangnya.

Sementara itu, pustakawan sejarah Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, SDN Alun- Alun Contong I/87 diresmikan pada tanggal 20 Desember 1900 yang bernama Inslandzhe School Soeloeng yaitu sekolah khusus pribumi di Sulung yang dibuka oleh Asisten Residern Kontroler (Arsip dari Soebaiaisch Handelsblad). "Kemudian berubah nama menjadi HIS (Hollandsch Islandsche School) No. 1 Pollackstraat (Soeloeng) pada tahun 1914 dengan Kepala Sekolahnya H.M. Smissaert ," katanya.

Ia menjelaskan, 1 Oktober 1942 atau 1 Oktober 2602 (tahun Jepang) menjadi Sekolah Rakyat Soeloeng, dengan pembukaan Sekolah serta penyesuaian buku pelajaran Jepang untuk sekolah di Surabaya. "Pada tahun 1945 menjadi Sekolah Sulung dan berkembang tahun 1980 menjadi Sekolah Dasar Alun-Alun Contong," pungkasnya. (rmt/nur) Editor : Lambertus Hurek
#museum sejarah SDN Alun-Alun Contong #sekolah pribumi zaman belanda di alun-alun contong #sekolah cak roeslan abdul ghani alun-alun contong