Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, berdasarkan buku berjudul Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia yang ditulis Yulianto Sumalyo menyebutkan Kantor Gubernur Jatim dibuat pada tahun 1931 yang merupakan karya arsitek terkemuka pada zaman Belanda yang pernah bekerja di Kementerian Landsgebowen (Pertanian), Lemei.
Pembangunan gedung ini adalah dalam rangka pelaksanaan politik desentralisasi (1903), dimana setiap pemerintah lokal mempunyai otonomi. “Kantor ini dibangun di Surabaya, simbol dari modernisasi kota yang sudak sejak lama menjadi ibu kota Provinsi Jawa Timur,” katanya.
Chrisyandi menuturkan, pada waktu itu Kantor Gubernur Jatim ini merupakan Kantor Gubernur terbesar, termegah dan termodern dibanding dengan daerah lainnya di Indonesia. Gedung ini dapat menjadi bukti bahwa sudah sejak dahulu Jatim merupakan daerah makmur, sehingga banyak mendapat perhatian dari pemerintah pusat. “Gedung ini diresmikan pada tanggal 10 Desember 1931,” katanya
Lebih lanjut Chrisyandi mengatakan, Lemei memadukan konsep klasik yang sangat sesuai untuk bangunan tropis tersebut, dengan gaya modern awal. Selain dengan kesederhanaan bentuk dan dekorasinya, gaya modernisme diungkapkan dengan atap datar, menara dan bagian-bagian bangunan lainnya membentuk unit-unit kubisme.
“Selain itu, ciri modernisme terlihat pada garis-garis horisontal dibentuk oleh tritisan datar dari beton dan atap,” ungkapnya.
Seperti pada banyak bangunan kolonial, ruang-ruang mendapat pencahayaan dan sirkulasi udara alami sangat baik, melalui jendela dan jendala atas lebar. Jendela-jendela tersebut dilindungi oleh tritisan datar dari beton.
Dari luar konstruksi tritisan tersebut membentuk garis horisontal. Seperti pada arsitektur modern, garis-garis yang terbentuk tersebut menjadi unsur komposisi dekoratif.
“Seluruh permukaan dinding pada lantai bawah ditutup dengan lempengan batu kali. Penyelesaian seperti ini banyak digunakan pada waktu itu. Selain untuk hiasan, memberikan suasana alami, sejuk juga melindungi dinding dari air,” jelasnya.
Mengutip disperpusip jatimprov, bangunan pokok terdiri dari dua lantai bergaya Roma dengan luas bangunan 7.865 m² yang dimodernisasi. Pembangunan gedung ini menelan biaya sebesar 805.000 gulden.
Gedung tersebut juga alami renovasi beberapa kali karena kerusakan akibat pengeboman pada masa perang kemerdekaan dan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. (mus/nur) Editor : Administrator