Chrisyandi mengatakan, kawasan Kembang Kuning pada masa Raden Wijaya disebut dengan Kembang Cri. Kemudian sebelum tinggal di Ampel Denta sebagai imam masjid, Raden Rahmat atau Sunan Ampel terlebih dahulu tinggal di Kembang Kuning. "Kawasan ini dulunya adalah hutan dan rawa-rawa," katanya.
Di kawasan ini Raden Rahmat dan rombongannya babat alas serta mendirikan tempat sembahyang yang sangat sederhana. Yang beberapa abad kemudian, dibangunlah Masjid Rahmat Kembang Kuning. "Beliau juga berkenalan dengan tokoh masyarakat Kembang Kuning, yaitu Ki Wiryo Sarojo dan juga Ki Bang Kuning," jelasnya.
Setelah melalui beberapa kali pembicaraan, kedua tokoh masyarakat itu bersama keluarganya, dengan suka rela mau memeluk agama Islam dan menjadi pengikut Raden Rahmat. Dengan masuknya kedua tokoh masyarakat itu beserta keluarganya, maka semakin mudah bagi Raden Rahmat untuk mengadakan pendekatan pada penduduk sekitarnya.
"Terutama pada masyarakat yang masih memegang teguh adat kepercayaan lama," tuturnya
Ki Wiryo Sarojo dan Raden Rahmat bekerja keras membuat masjid. Hingga pada akhirnya Raden Rahmat dinikahkan dengan Karimah, putri Ki Wiryo Sarojo. "Masjid yang dibuat dengan atap alang-alang, yang termasuk masjid tertua di Jawa. Masjid ini diberi nama Masjid Rahmat, untuk mengabadikan nama pembangunnya Raden Rahmat," jelasnya.
Masjid Rahmat ini pernah menjadi pusat kegiatan Dakwah, bahkan semua wali-wali sembilan orang di Jawa yaitu Wali Songo membicarakan Islam di Masjid Rahmat ini. (mus/nur) Editor : Lambertus Hurek