Salah satu minoritas yang menonjol di Surabaya adalah warga Tionghoa. Sejak zaman dahulu orang Tiongkok sudah berdatangan dan membangun kehidupan di sini, mereka membangun lingkungan Pecinan. Bahkan sebelum Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) datang ke Indonesia.
Pecinan merupakan kawasan yang banyak dihuni masyarakat Tionghoa pada masa itu. Kawasan ini hidup, bahkan masih ada hingga saat ini. Beberapa kawasan Pecinan yang masih hidup antara lain di Jalan Slompretan, Jalan Tambak Bayan, Banyuurip Wetan, hingga Kapasan Dalam. Ada banyak lagi kawasan Pecinan lain di Surabaya namun beberapa tempat sudah sedikit dihuni oleh keturunan Tionghoa.
"Empat tempat ini masih kental, Banyuurip Wetan misalnya, ada di gedung setan," kata Pegiat Sejarah Nur Satriawan.
Keturunan Tionghoa di Surabaya ini banyak yang datang melalui kapal. Mereka datang awalnya untuk berdagang, namun akhirnya menetap di Surabaya. Mereka tidak langsung menjadi pedagang besar, melainkan ada yang menjadi tukang kayu maupun pekerja kasar lain di Surabaya. Ada yang berkeliling menjual lampu.
Surabaya khususnya, sudah dilirik oleh saudagar dan pedagang dari luar Indonesia. Keturunan Tionghoa ini datang untuk mengadu nasib dan mencari penghidupan baru. Mereka memilih Surabaya karena potensi perdagangannya kala itu. Mereka rata-rata bertempat tinggal tak jauh dari sungai.
"Kawasan Kya Kya ini dulunya memang banyak pedagang Tionghoa di sana. Ada pun beberapa keluarga tercatat hidup di Surabaya seperti keluarga besar Tjoa atau The dan Han," terangnya. (gun/nur) Editor : Lambertus Hurek