Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, Kayoon pada zaman Belanda merupakan kawasan di luar kota atas. "Dahulu zaman kolonial Kayoon kawasan elit. Di pinggir sungai Kalimas atau sepanjang Kayoon itu ada taman kota yang indah," ujar Nanang.
Dia mengatakan, di lokasi tersebut juga diciptakan sarana publik untuk jalan-jalan dan jujugan warga kota untuk bersantai. Seiring berjalannya waktu, Kayoon mulai berubah. Menurut Nanang, pasca kemerdekaan pedagang bunga mulai berjualan di Jalan Kayoon. Kemudian pada sekitar tahun 1980-an Kayun menjadi pasar bunga yang ramai dikunjungi dan menjadi tujuan wisata.
"Pasar bunga menjadi tempat wisata. Tanpa mereka sadari sesungguhnya mereka mewarisi sebuah keindahan taman yang ada di masa kolonial yang memanfaatkan tepian sungai sebagai tempat usaha," jelasnya.
Nanang melanjutkan, bunga-bunga yang dijual di Pasar Kayoon berasal dari Batu, Malang, dan Pasuruan. Hingga kini Pasar Bunga Kayoon menjadi pasar bunga terbesar dan ramai dikunjungi di Kota Pahlawan.
Di sepanjang Jalan Kayoon kini terdapat kios-kios yang menjual bunga potong dan bunga plastik. Selain itu juga terdapat kios yang menawarkan rangkaian bunga menjadi bouquet atau karangan bunga papan ucapan. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek