Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kawasan Pecinan Surabaya Mutiara yang Perlu Dipoles Lagi

Administrator • Rabu, 31 Januari 2018 | 15:20 WIB
KREATIF: Peserta Festival Rujak Uleg 2022 tampil dengan kostum dan atraksi yang menarik. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)
KREATIF: Peserta Festival Rujak Uleg 2022 tampil dengan kostum dan atraksi yang menarik. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Surabaya - Etnis China atau Tionghoa yang memiliki leluhur di  Tiongkok ada di banyak negara di dunia. Tak terkecuali di Indonesia, leluhur mereka melakukan migrasi ke berbagai belahan dunia lain dan membentuk komunitas. 


Kemudian menetap di sebuah wilayah. Nah wilayah ini dikemudian hari terus saja berkembang hingga menjadi sebuah kawasan yang disebut dengan China Town atau Pecinan.


Di Indonesia ada kawasan empat kawasan Pecinan yang dianggap memiliki nilai jual pariwisata sebagai Kota Lama. Bukan hanya soal nuansa sejarahnya saja yang kental, tapi suguhan menarik mulai dari kuliner hingga hiburan. Empat kawasan Pecinan itu ada di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. 


Kawasan Pecinan di Surabaya yang terletak di kawasan Surabaya Utara, di Surabaya  ada lima lokasi kawasan Pecinan. Salah satunya adalah Kembang Jepun dengan panjang jalan hingga 700 meter dan dianggap sebagai kawasan paling bersejarah bagi perkembangan etnis Tionghoa di Surabaya. Di kawasan Jepun, hampir semua bangunannya masih orisinil dengan arsitektur Tionghoa. 


Zaman Belanda, kawasan Kembang Jepun merupakan pusat kota Surabaya yang juga menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai. Banyak orang Tionghoa yang berdagang di sana, oleh karena itu kawasan tersebut disebut sebagai kawasan Pecinan Surabaya. 


Dahulu kawasan Pecinan hanya berada di sepanjang jalan Karet berbatas dengan jalan Kembang Jepun dan Kalimas sebelum Surabaya melebar ke selatan. Jalan Karet merupakan jalan utama kawasan Pecinan yang didesain oleh Belanda, bernama Chineche Straat. Karena merupakan pusat kota, banyak bangunan tua bersejarah di kawasan Pecinan yang dapat digagas sebagai kawasan wisata kota lama, khususnya Jalan Karet. 


Di sepanjang jalan Karet tersimpan ‘mutiara’ kota lama yaitu tiga rumah abu. Rumah Abu merupakan bangunan yang didirikan oleh keluarga semarga dan digunakan sebagi rumah sembahyang untuk menghormati leluhur. 


Meskipun disebut sebagai rumah abu, sebenarnya di rumah ini tidak tersimpan abu melainkan Sinchi (papan arwah). Rumah abu digunakan para keturunan atau anak cucu ubtuk mendoakan leluhur mereka yang sudah tiada. Yang menarik, bangunan rumah abu hanya berjarak 100 meter satu sama lain. 


Tiga Rumah Abu itu adalah Rumah Abu Han, Rumah Abu The, dan Rumah Abu Tjoa. Rumah Abu Han merupakan rumah abu terbesar dan tertua. Berada di jalan Karet 72, didirikan oleh Han Bwee Ko, keturunan keenam keluarga Han, pada abad ke 18. 


Sejarah rumah abu Han diawali dengan kedatangan Han Siong Kong ke Indonesia pada tahun 1673. Di dalam rumah abu ini tidak terdapat satupun abu orang yang sudah meninggal melainkan kayu-kayu simbolis yang disebut sinchi dan bertuliskan dalam bahasa Tiongkok. 


Sinchi terletak di meja altar, berwarna putih gading berukuran panjang sekitar 20 cm dan lebar 5 cm. Sejarah keluarga Han diawali oleh Han Siong Kong dan berlanjut ke salah satu keturunannya Han Bwee Koo. Di sebelah rumah Abu Han juga terdapat rumah abu The yang merupakan menantu keluarga Han.


Rumah Abu The berada di Jalan Karet 48. Merupakan tempat sembahyang bagi keluarga besar Tionghoa yang bermarga The untuk menghormati leluhur mereka The Sing Koo. Di dalam rumah abu ini terdapat keramik dan foto-foto lama, salah satunya adalah foto Mayor The Goan Tjing yang merupakan putra dari Kapten The Sing Koo dan cucu Kapten Liem Ing dan buyut Kapten Han Bwee Koo. The Goan Tjing pernah menjabat menjadi mayor Tionghoa, pemimpin tertinggi masyarakat Tionghoa yang diangkat Belanda.


Dan yang ketiga adalah Rumah Abu Tjoa, yang terletak di Jalan Karet 40. Didirikan oleh Tjoa Phik Kong pada tahun 1792, awalnya merupakan rumah tinggal keluarga Tjoa Phik Kong, putra Tjoa Kwie Sioe.


Adanya ‘mutiara’ kota lama ini membuat Pemerintah Kota Surabaya menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan cagar budaya. Meskipun telah dinyatakan sebagai kawasan cagar budaya, potensi ini belum dimaksimalkan. Wajah depan kawasan harus tetap dipertahankan untuk mempertahankan suasana agar memory koletif masyarakat tetap hidup. 


Freddy H. Istanto, Ketua Surabaya Heritage, mengatakan, upaya untuk menghidupkan kembali kota lama harus terus dibangun. Direncanakan dengan baik kemudian diprogram dengan baik, dan didukung dengan peraturan-peraturan lainnya. "Selain memperbaiki infrastruktur, sebagai upaya untuk penjagaan dan perawatan, dapat diberlakukan tiket masuk atau karcis,” katanya. 


Dengan menjadikan cagar budaya bangunan akan terlindungan, setelah terdaftar menjadi cagar budaya, perawatanaya harus tetap, yang dapat dimulai dari kesadaran keluarga pemilik, komunitas etnis, dan kerjasama dengan pengusaha. 


“Harus ada tokoh yang muncul, melihat ini sebagai asset budaya yang harus dipertahankan. Ada empat pilar pendukungnyan, pemerintah, keluarga pemilik, komunitas etnis, akademisi untuk riset yang akan mengkaji secara ilmiah. Selain itu, menyediakan rest area bernuansa Tionghoa dengan pernak-pernik yang khas seperti batik encim, sajian khas seperti buah-buahan, lauk pauk, kue nian gao, kue wajik, kue mangkok, kue keranjang, muaco, lauwa, thong chiu pia, dan kue tok,” tambahnya. 


Melihat kondisi kekinian yang ada di kawasan Pecinan ini, masih banyak yang harus dilakukan Pemerintah Kota Surabaya bila ingin menjadikan kawasan Pecinan ini menjadi tujuan Wisata Kota Lama di Surabaya.(cin/rak)

Editor : Administrator
#Pecinan Surabaya #rumah sembahyang han jalan karet #rumah sembahyang the jalan karet #gapura kya kya kembang jepun #kembang jepun pecinan #rumah sembahyang Tjoa jalan karet