RADAR SURABAYA - Pemanfaatan tanah lebih optimal jika melalui kajian akademis terlebih dulu. Ini menjadi salah satu yang diharapkan Badan Bank Tanah menggandeng perguruan tinggi. Diharapkan ini dapat membantu mengidentifikasi potensi ekonomi lahan sekaligus menjadi dasar pengambilan kebijakan yang lebih tepat.
Lahan tidak seharusnya hanya dipandang sebagai ruang kosong, tetapi perlu dianalisis berdasarkan karakteristik, kesesuaian pemanfaatan, dan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.
“Tanah itu tidak hanya ruang kosong, tetapi ada ruang ekonomi yang bisa kampus berikan nilai tambahnya,” kata Sekretaris Badan Bank Tanah, Jarot Wahyu Wibowo, Minggu (18/10).
Baca Juga: Gol Telat Miguel Pereira Selamatkan Persebaya dari Kekalahan Lawan PSS
Badan Bank Tanah sendiri mengelola sekitar 35.000 hektare tanah negara yang berstatus hak pengelolaan lahan (HPL). Pemanfaatannya mencakup berbagai kepentingan, mulai dari program pemerintah hingga kegiatan investasi.
Namun, penentuan peruntukan lahan tetap harus memperhatikan rencana tata ruang wilayah dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
Karena itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi berlanjut menjadi penelitian dan rekomendasi yang dapat diterapkan dalam pengelolaan lahan.
Baca Juga: TKA Jatim Digelar 26 Oktober, Kesiapan Capai 99,8 Persen
Sementara itu, Wakil Rektor IV UB Prof Andi Kurniawan menyatakan dukungan akademisi diperlukan untuk memperbaiki sistem pengelolaan tanah dan menghasilkan keputusan yang lebih tepat, baik untuk tanah negara maupun lahan yang dimanfaatkan dunia usaha.
“Berkontribusi ke sistem yang lebih baik terhadap keputusan terutama terhadap aset-aset tanah, baik negara maupun yang masuk ke dunia usaha,” ungkapnya.(gun)
Editor : Guntur Irianto
Sumber : radar surabaya