Gubernur Khofifah Targetkan Kemiskinan Ekstrem Jatim Nol Persen, Ini Strateginya

Rahmat Adhy Kurniawan • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:14 WIB
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin Upacara Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (12/10).(Biro Adpim Pemprov Jatim)
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin Upacara Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (12/10).(Biro Adpim Pemprov Jatim)

RADAR SURABAYA– Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menargetkan angka kemiskinan ekstrem di Jawa Timur turun hingga nol persen.

Target tersebut didorong oleh perbaikan indikator kesejahteraan masyarakat serta penguatan program pembangunan di berbagai sektor.

Berdasarkan data yang disampaikan Khofifah, tingkat kemiskinan Jawa Timur pada Maret 2026 tercatat 9,06 persen.

Angka ini turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 9,50 persen. Sementara itu, tingkat kemiskinan ekstrem di Jawa Timur pada 2025 tercatat sebesar 0,29 persen.

“Ini optimisme kita untuk dapat menurunkan kemiskinan ekstrem hingga nol persen,” kata Khofifah saat memimpin upacara peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (12/10).

Baca Juga: Tiga Tahun Tak Terima Bansos, Pemulung Lansia Surabaya Kini Masuk Desil 1

Menurut Khofifah, penurunan kemiskinan menjadi salah satu capaian program Nawa Bhakti Satya, yang menjadi arah prioritas pembangunan Jawa Timur hingga 2029.

Program tersebut mencakup berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mulai dari perluasan kesempatan kerja, penguatan ketahanan pangan, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga transformasi pelayanan publik.

Pengangguran Jatim Turun, Produksi Padi Capai 10,44 Juta Ton

Di sektor ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,42 persen.

“Catatan TPT ini menjadi capaian yang menunjukkan resiliensi ekonomi kita,” ujar Khofifah.

Sementara itu, sektor pertanian tetap menjadi salah satu penopang perekonomian Jawa Timur.

Produksi padi sepanjang 2025 mencapai sekitar 10,44 juta ton gabah kering giling (GKG), setara dengan 17,34 persen dari total produksi padi nasional.

Selain padi, Jawa Timur turut menopang produksi pangan nasional melalui komoditas jagung, tebu, daging, susu, telur, dan perikanan.

Baca Juga: Tiket Kereta Api KAI Daop 8 Naik hingga Rp 60 Ribu, Cek Rutenya

Khofifah menegaskan, capaian ketahanan pangan tidak terlepas dari kontribusi petani, peternak, dan nelayan yang menopang produksi berbagai komoditas strategis.

Pendidikan dan Kesehatan Jadi Prioritas

Pemprov Jawa Timur juga memperluas akses pendidikan melalui program Jatim World Class Education.

Program ini mencakup penguatan pendidikan vokasi, perguruan tinggi, dan pendidikan pesantren.

Berbagai upaya dilakukan melalui beasiswa santri unggul, penguatan pendidikan vokasi, serta kolaborasi dengan King's College London.

Langkah tersebut diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia yang memiliki daya saing internasional.

Di bidang kesehatan, cakupan perlindungan jaminan kesehatan masyarakat Jawa Timur hingga September 2026 mencapai 96,12 persen. Sementara itu, usia harapan hidup tercatat 75,36 tahun.

Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat fondasi pembangunan yang inklusif.

Digitalisasi Pelayanan Publik Diperkuat

Pemprov Jawa Timur juga memperkuat transformasi tata kelola pemerintahan melalui Ekosistem Majapahit Digital (MAJADIGI).

Hingga September 2026, sebanyak 241 layanan telah terintegrasi dalam ekosistem tersebut untuk mendukung pelayanan publik dan administrasi pemerintahan.

Melalui program Jatim Harmoni dan Jatim Lestari, Khofifah turut menekankan pentingnya pemerataan manfaat pembangunan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga: 15 Bangunan di Jalan Nambangan Ditertibkan, Ini Alasan Pemkot Surabaya

“Peran sebagai Gerbang Baru Nusantara juga harus membawa manfaat yang semakin merata di dalam Jawa Timur,” katanya.

Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat sinergi dan kolaborasi untuk melanjutkan pembangunan daerah. Ia juga mengingatkan bahwa falsafah Jer Basuki Mawa Beya  mengandung makna bahwa keberhasilan membutuhkan kesungguhan, kerja keras, dan pengorbanan.

Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, Khofifah turut menyematkan Tanda Kehormatan Lencana Jer Basuki Mawa Beya kepada sejumlah pejabat publik, tokoh masyarakat, pegiat sosial, dan pelaku usaha yang dinilai berkontribusi bagi Jawa Timur.

Sebanyak 13 tokoh menerima penghargaan kategori emas. Di antaranya Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara R. Narendra Jatna,

Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Abdul Qohar AF, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono, serta Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur Brigjen Pol. Budi Mulyanto.

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur nawa bhakti satya khofifah indar parawansa kemiskinan ekstrem jatim