PGRI Jatim Dukung MBG, Minta Guru Tak Dibebani Urusan Teknis

Mus Purmadani • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 20:06 WIB
Ketua PGRI Jatim Djoko Adi Walujo
Ketua PGRI Jatim Djoko Adi Walujo

 

RADAR SURABAYA – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Timur mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah. Namun, pelaksanaannya di sekolah diharapkan tidak mengganggu kinerja guru, terutama dalam menjalankan tugas utama pembelajaran dan pembentukan karakter siswa.

Ketua PGRI Jawa Timur Djoko Adi Walujo menyoroti keterlibatan guru dalam sejumlah urusan teknis MBG. Mulai dari mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada siswa hingga membantu membereskan perlengkapan makan setelah program berlangsung.

Baca Juga: Wali Kota Surabaya Lantik 85 Pejabat Baru, 48 Promosi dan 37 Rotasi 

Menurut Djoko, guru harus tetap fokus pada tugas profesionalnya di bidang pendidikan. Keterlibatan dalam program MBG seharusnya sebatas membantu dan mendukung, bukan menjadi beban yang mengurangi waktu pembelajaran.

"Ya, kita harus profesional. Guru yang profesional itu harus profesional di bidang pembelajaran, jangan mendapatkan beban yang lain. Kalau beban yang lain itu sifatnya fakultatif, Mas, tidak harus itu yang utama. Sing utama guru ya mengupdate pelajarannya, sinau yang tepat, dan sebagainya," ujarnya, Jumat (2/10). 

Djoko mengungkapkan, pelaksanaan MBG di sekolah berdampak pada berkurangnya waktu belajar mengajar sekitar 40 hingga 60 menit. Waktu tersebut tersita untuk mengurus berbagai keperluan program MBG.

Dia memahami keterlibatan guru sebagai bentuk dukungan terhadap program nasional. Namun, jangan sampai dukungan tersebut justru mengurangi kesempatan siswa mendapatkan pembelajaran secara optimal.

"Dan mengapa itu dilakukan oleh guru, ya karena kesetiaan guru lah terhadap program nasional. Tetapi jangan sampai akhirnya guru menjadi beban itu. Itu akan jadi rugi nanti, pendidikan akan rugi semacam itu," jelasnya.

Baca Juga: Lihat Fasilitas SMPN 47 Surabaya Tidak Layak, Wali Kota Eri Perintahkan Optimalkan Bopda dan Bosnas

Karena itu, PGRI Jatim berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memastikan pelaksanaan MBG tidak menggeser fungsi utama guru. Guru harus tetap memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan materi, memperbarui metode pembelajaran, serta mendampingi perkembangan siswa.

Djoko menegaskan, mengurus pelaksanaan MBG bukan tugas pokok guru. Menurut dia, guru dapat membantu program tersebut selama tanggung jawab tambahan itu tidak mengurangi kualitas pembelajaran di sekolah.

"Harapannya guru dikembalikan pada fungsi-fungsi profesinya. Guru harus profesinya. Kalau dia itu ngurusi MBG itu hanyalah fakultatif, hanya membantulah. Tapi itu bukan tugas pokoknya, itu yang perlu diketahui," tegasnya.

Dia menambahkan, keberhasilan program pemerintah perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga mutu pendidikan. Jangan sampai keterlibatan guru dalam kegiatan pendukung justru menghambat pelaksanaan tugas utama mereka.

"Bahwa guru itu punya tugas pokok di dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter siswa, kan gitu. Kalau itu ada program nasional yang semacam itu, itu bukan tugas pokok guru. Kalau tugas pokok guru terkurangi waktunya dan sebagainya, ini ya sebetulnya kurang baiklah," jelasnya. 

Djoko menegaskan, PGRI Jatim tetap mendukung program MBG. Namun, dukungan tersebut harus dilaksanakan secara proporsional agar guru tetap dapat menjalankan peran utamanya sebagai pendidik dan pengajar. (mus)

Editor : Lambertus Hurek
guru profesional pgri jatim Mbg kinerja guru djoko adi waluyo