RADAR SURABAYA – Berdiri di depan kelas, berhadapan dengan puluhan pasang mata siswa, ternyata memberikan pengalaman berbeda bagi Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur (Jatim) Aries Agung Paewai. Selama ini terbiasa mengurusi kebijakan pendidikan dari balik meja, kali ini Aries memilih turun langsung merasakan bagaimana menjadi seorang guru.
Pengalaman itu dijalani Aries dalam program Menjadi Guru Sehari. Bukan sekadar mengajar, kegiatan tersebut menjadi kesempatan baginya untuk mendengar langsung suara siswa dan melihat dinamika pembelajaran dari sisi seorang pendidik.
Langkah pertama dilakukan Aries di SMAN 4 Surabaya, Selasa (22/9). Setelah meninjau lingkungan sekolah dan sarana prasarana, ia masuk ke ruang kelas X-3 yang diisi 32 siswa.
Baca Juga: Janji Masuk Kerja di Damkar Surabaya, Bayar Rp 31 Juta Tak Ditempatkan, Dua Pegawai Terancam Dipecat
Di depan kelas, Aries mengajar Pendidikan Pancasila. Namun suasana pembelajaran tidak dibuat kaku. Ia mengajak siswa berdiskusi mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aries juga meminta para siswa menuliskan cita-cita mereka. Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam amplop dan dititipkan kepada kepala sekolah.
Dari aktivitas sederhana itu, Aries justru mendapatkan pengalaman yang menurutnya penting. Berada di depan kelas membuatnya merasakan sendiri bagaimana guru harus menjaga perhatian siswa sekaligus memastikan materi yang disampaikan dapat diterima.
Baca Juga: Mengapa Banyak Kampung Bernama Tambak, Rawa, Kedung, Balong di Surabaya?
“Ternyata menjadi guru itu tidak mudah seperti apa yang kita bayangkan. Kita berproses di dalam kelas, bagaimana murid-murid kita bisa tertarik dengan apa yang kita sampaikan,” ujar Aries.
Menurut dia, penguasaan materi saja belum cukup untuk menjadi guru yang efektif. Cara menyampaikan materi harus disesuaikan dengan karakter peserta didik. Pengalaman tersebut sekaligus membuka ruang bagi Aries untuk mendengar langsung kebutuhan siswa. Dalam dialog bersama siswa, muncul satu pesan yang cukup kuat: pembelajaran harus lebih interaktif dan visual.
“Mereka mengatakan butuh pembelajaran yang interaktif. Karena mereka generasi Gen Z yang visual,” tuturnya.
Baca Juga: SMAN 2 Mataram dan SMAN 1 Wonoayu Kampiun Final Regional AXIS Nation Cup 2026 East Java Balinusra
Aries melihat perubahan karakter siswa sebagai tantangan yang harus dijawab guru. Anak-anak saat ini tumbuh bersama teknologi dan memiliki akses informasi yang jauh lebih luas. “Anak-anak kita itu sudah cerdas karena melek teknologi, dia paham,” katanya.
Karena itu, pola mengajar juga tidak bisa berhenti pada metode konvensional. Teknologi dan metode pembelajaran yang lebih kreatif perlu digunakan agar guru tetap mampu membangun keterlibatan siswa. “Kalau kita masih mengajar cara konvensional, maka tentu akan ditinggal oleh murid-murid kita,” ujarnya.
Pengalaman Aries tidak berhenti di ruang kelas SMA. Sehari kemudian, Rabu (23/9), ia melanjutkan perannya sebagai guru di SMKN 1 Kebonsari, Madiun.
Baca Juga: Tujuh Kali Beraksi di Surabaya, Dua Eksekutor dan Penadah Curanmor Didor
Kali ini Aries berhadapan dengan 36 siswa kelas X jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Pembelajaran Pendidikan Pancasila berlangsung sekitar satu jam 45 menit, mulai pukul 12.30 hingga 14.15 WIB.
Salah seorang siswa di kelas itu adalah Louis, peserta program ADEM asal Nabire, Papua. Berada di lingkungan SMK membuat Aries menemukan pengalaman berbeda. Karakter siswa SMA dan SMK menurutnya membutuhkan pendekatan pembelajaran yang tidak selalu sama.
“Menurut saya, tantangan mengajar siswa SMA itu mereka kritis di kelas dan berani mengemukakan pendapat. Sedangkan siswa SMK sepertinya lebih senang kalau berada di ruang nyata atau tempat praktik. Sehingga tantangan mengajarnya berbeda,” jelasnya.
Baca Juga: TransNusa Perluas Jaringan Domestik, Buka Rute Baru Denpasar - Surabaya Mulai 21 September 2026
Aries pun kembali mengubah pendekatan. Alih-alih menyampaikan materi secara satu arah, ia memilih mengajak siswa berdiskusi tentang kemampuan mengendalikan diri.
Bagi Aries, kemampuan mengendalikan diri merupakan bagian penting dari proses belajar menjadi pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri.
“Makanya saya tidak mengajar, saya ajak mereka berdiskusi tentang bagaimana mengendalikan diri untuk bisa memimpin diri sendiri,” katanya.
Dua ruang kelas di dua jenjang berbeda tersebut memberikan satu kesimpulan bagi Aries: tidak ada satu metode yang bisa diterapkan untuk seluruh siswa.
Guru harus mampu membaca karakter anak didiknya, memahami cara mereka belajar, sekaligus menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan zaman.
Baca Juga: Belanda vs Jerman, Duel Pelatih Debutan di UEFA Nations League
Pengalaman menjadi guru sehari juga membuat Aries kembali menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi guru. Menurutnya, guru perlu terus melakukan pembaruan kemampuan agar tidak tertinggal oleh perubahan karakter peserta didik. “Saya memang selalu menganggap bahwa proses upgrade ini penting,” tegasnya.
Peningkatan kompetensi tersebut, lanjut Aries, tidak hanya menyangkut satu bidang mata pelajaran. Guru membutuhkan ruang belajar yang berkelanjutan, termasuk melalui forum yang menghadirkan pengajar dan instruktur profesional.
Ia berharap instruktur yang memiliki pengalaman praktis dapat ikut memperkuat kompetensi guru, terutama dalam hal metode mengajar yang dapat langsung diterapkan di ruang kelas.
Baca Juga: Dean James dan Calvin Verdonk Tiba, Skuad Timnas Indonesia Lengkap
“Terutama yang nanti kami datangkan para pengajar, instruktur yang profesional, yang bisa memahami bagaimana mengajar yang baik, yang benar, dan bisa implementatif bagi murid-murid,” jelasnya
Bagi Aries, pengalaman menjadi guru sehari bukan sekadar turun mengajar. Ada pesan lain yang ingin ia bawa pulang. Menurutnya mendengar siswa secara langsung menjadi bagian penting dalam menyusun kebijakan pendidikan.
Menariknya, selama berada di kelas, siswa tidak diperkenalkan sebagai Kepala Dindik Jatim. Mereka hanya mengetahui Aries sebagai guru tamu. Situasi itu justru membuat interaksi berlangsung lebih cair. Tanpa sekat jabatan, siswa lebih leluasa berdiskusi dan menyampaikan pandangan mengenai pembelajaran maupun kebutuhan pendidikan mereka.
Baca Juga: Anthony Hudson Targetkan Thailand Juara FIFA ASEAN Cup 2026
“Dalam menjadi Guru Sehari ini, siswa tidak tahu siapa saya. Mereka hanya tahu saya guru tamu. Berjalannya pembelajaran saya berdialog dan berdiskusi soal mata pelajaran hingga kebutuhan pendidikan. Dengan begitu kami dapat mengetahui bagaimana kebutuhan siswa dan guru,” pungkasnya. (mus/gun)
Editor : Guntur IriantoSumber : radar surabaya